Kreasi cantik dari Classy Tent… one of my biz !!!
Intisari proses kehidupan ini kupersembahkan untuk kawula muda yang menginginkan kebebasan jiwa dalam melakoni kehidupan, khususnya bagi kawula muda yang bercita-cita atau memilih profesi sebagai entrepreneur.
Kehidupan yang telah kujalani selama lebih dari setengah abad berujung pada kesimpulan, bahwa :
Banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan obsesiku sebagai entrepreneur.
Selama 25 tahun aku terlena dalam kenyamanan karyawan, yang dikemas dalam rasa aman berupa gaji dan fasilitas tunjangan manajerial perusahaan.
Kenyamanan yang harus ditebus dengan terpasungnya kebebasan jiwa, karena terikat oleh sistem dan prosedur baku yang memang lazim berlaku dalam suatu organisasi perusahaan.
Proses belajar bisnis jadi terasa berat dan meletihkan jiwa, karena pada usia 40 tahun baru serius mempunyai rencana untuk alih profesi sebagai entrepreneur. Investasi waktu untuk belajar bisnis tumpang tindih dengan seabreg kewajiban sebagai kepala rumah tangga dan sebagai karyawan.
Aku dilahirkan tanggal 23 Desember 1956 di Klaten, Jawa Tengah ; sebagai anak ke 3 dari 6 bersaudara. Ayah dan ibu berprofesi sebagai guru pegawai negeri.
Pendidikan SD dan SMP di Klaten ; SMA 2 tahun di Solo dan 1 tahun di Pare, Kediri (Jawa Timur) ; pendidikan terakhir di salah satu Akademi Akuntansi swasta di Jakarta.
Pendidikan formal yang kujalani tidak dapat dibanggakan, karena prestasi akademisku pas-pasan, bahkan nyaris tidak dapat melanjutkan pendidikan di Akademi Akuntansi karena keterbatasan ekonomi ortu.
Aku menikah pada tanggal 8 September 1985 dengan L. Sri Hartati, gadis Klaten.
Pacaran via surat saja, karena waktu itu aku sedang ditugaskan di Saudi Arabia selama 6 bulan, sedangkan sang pujaaan hati sedang kuliah di Yogya.
Aku bahagia dianugerahi Allah 4 puteri cantik, sehat dan cerdas. Buah cinta kami beri nama: B. Lusianti Putri lahir tanggal 28 Juni 1986, B. Larasati Trista lahir tanggal 3 Januari 1992, B. Bellanita Astri lahir tanggal 24 Januari 1995, serta B. Amorisha Tristi lahir tanggal 7 November 2000.
Proses ‘ universitas jalanan’ dimulai pada tahun 1976 ketika aku berusia 20 tahun. Kondisi ekonomi ortu yang terbatas menyadarkan diriku untuk bertindak sesuatu, yakni berusaha merubah kehidupan agar lebih baik dan berkualitas.
Peristiwa pribadi yang kualami pada tanggal 28 Agustus 1976 begitu dahsyat, sehingga mampu mengubah kejiwaanku untuk bangkit.
Obsesi hidup lebih baik dan dilandasi semangat juang tinggi ternyata mampu mengawal diriku dalam melakoni pasang surut kehidupan, sehingg mampu survive di Jakarta yang keras.
Problem ekonomi sedikit teratasi ketika tahun 1979 aku diterima sebagai asisten auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik di Jakarta.
Berkat keseriusan dalam berkarya membawa prestasi kerja, sehingga Boss memberikan tunjangan pendidikan untuk membiayai biaya pendidikan di Akademi Akuntansi sampai selesai.
Selama 3 tahun aku menjalani rutinitas dua profesi, sebagai karyawan dari pagi sampai sore hari dan sebagai mahasiswa di malam hari.
Selama 5 tahun dii kantor Akuntan Publik ini aku banyak belajar tentang pemeriksaan/audit, siklus akuntansi sampai pelaporan dan perpajakan dari berbagai jenis perusahaan client.
Manfaat yang bisa dipetik : bisnis memerlukan sistem pelaporan keuangan untuk pengambilan keputusan strategis.
Tahun 1984 pindah kerja ke perusahaan konstruksi yang sedang mengejakan beberapa proyek di Saudi Arabia.
Aku ditugaskan sebagai Finance Controller selama 6 bulan di Riyadh, Saudi Arabia.
Tahun 1985-1988 merupakan masa suram dalam karir, sering berpindah perusahaan.
Dari Jakarta pindah ke Surabaya, terus berkarya di Klaten, pindah lagi ke Semarang.
Tahun 1989 aku kembali ke Jakarta, meniti karir di salah satu perusahaan konstruksi papan atas.
Aku berkarya di perusahaan tersebut selama 12 tahun, dengan jabatan terakhir sebagai Finance Manager.
Aku mengajukan permohonan berhenti sebagai karyawan pada tahun 2001.
Tahun 2002 aku mulai melakoni profesi sebagai full entrepreneur.
Jalur kebebasan mulai kujalani, sekaligus mulai menerima dan mengelola risiko.
Sampai dengan usia 40 tahun, aku tidak pernah menyiapkan perencanaan masa depan secara spesifik, kecuali hanya menabung untuk dana pendidikan 4 (empat) anakku.
Yang ada hanya rasa malas, karena semua pengeluaran rumah tangga relatif dapat dicukupi dari gaji dan fasilitas sebagai Finance Manager.
Selama 25 tahun aku terlena dalam kenyamanan karyawan, yang dikemas dalam rasa aman berupa gaji dan fasilitas tunjangan manajerial perusahaan.
Kenyamanan yang harus ditebus dengan terpasungnya kebebasan jiwa, karena terikat oleh sistem dan prosedur baku, yang memang lazim berlaku dalam suatu organisasi perusahaan.
Aku mulai lebih serius memikirkan masa depan sejak terjadinya perubahan politik dan guncangan ekonomi (krisis moneter) pada tahun 1998, betapa dahsyat dampaknya terhadap perekonomian. Comfort zone sebagai karyawan mulai terusik.
Pada tahun 2001 aku mulai terobsesi dengan serial buku karya Robert Kiyosaki yang mengupas habis tentang kebebasan finansial , sehingga aku mulai menyiapkan masa depan lebih konkret dan membulatkan tekad untuk pindah profesi dan siap belajar sebagai entrepreneur.
Proses belajar bisnis jadi terasa berat dan meletihkan jiwa, karena pada usia senja baru serius mempunyai rencana untuk alih profesi.
Investasi waktu untuk belajar bisnis tumpang tindih dengan seabreg kewajiban sebagai kepala rumah tangga dan sebagai karyawan.
Proses belajar makin berat karena melawan diri sendiri, yakni dari suasana comfort zone sebagai karyawan mencoba berubah menjadi entrepreneur yang risk taker. Konflik kejiwaan yang akut.
Aku beberapa kali ditemani kegagalan dalam mengelola bisnis, namun setiap kali gagal selalu disertai dengan pencerahan untuk bertindak lebih baik lagi. Hikmah yang terjadi sungguh membuat cerdas.
Pagi ini menyiapkan data perpajakan bulan Juni 2007 untuk dilaporkan ke KPP Klaten.
Sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), setiap bulan kami harus melaporkan SPT PPN, PPh pasal 25 (Pribadi) dan PPh pasal 21 Karyawan serta membayar ke Kas Negara via Bank Persepsi atas terutangnya pajak2 dari aktivitas korporasi.
Dengan memahami perpajakan dan taat dalam pelaporan, kami mulai memahami mengapa Robert T. Kiyosaki sering mennyatakan, bahwa perpajakan merupakan salah satu strategi penting dalam proses mencapai kebebasan finansial.