Perjalanan saya menjadi TDA (baca : entrepreneur, red) yang tertatih-tatih, panjang dan melelahkan jiwa & fisik, lebih banyak disebabkan karena pengelolaan “waktu” yang tidak efisien serta tidak konsisten.
Masih segar dalam ingatan, ketika masih TDB (baca : karyawan, red) selalu berdalih (sebagai “excuse” diri sendiri) dengan aneka alasan, antara lain :
1. Sibuk menjalankan fungsi manajerial di tempat kerja, maklum sebagai Finance Manager korporasi konstruksi papan atas pasti punya seabreg aktivitas internal maupun external.
Masih ditambah kegiatan travelling mengontrol proyek2 yang tersebar di pulau2 besar negara Indonesia.
2. Sungguh suatu “perfect excuse” yang bisa diterima siapapun, namun dibalik semua itu… tersimpan fakta kejujuran hati nurani, bahwa saya enggan melepaskan “comfort zone” sebagai TDB yang sedang pada “posisi puncak” (menurut ukuran saya pribadi, red).
3. Saya takut dengan “risiko” untuk memulai mendirikan korporasi yang dikelola sendiri, saya takut gagal berbisnis, saya takut masuk “wild jungle zone” dunia bisnis.
4. Mindset TDB kental melekat, sense of responsibility masih dalam ruang lingkup yang sempit, cenderung mencari celah kesalahan staff, melaksanakan tugas sebatas job description, tidak mau tahu dengan problem departemen lain, etc… etc…
5. Dream “pensiun dan bebas finansial” hanya sekedar wacana, “omdo”, NATO, dan istilah2 lainnya untuk menyebut kalau tidak ada “real action”.
6. Pada taraf “amphibi”, saat sudah mempunyai korporasi dengan pendanaan modal pribadi, masih terlena dengan “comfort zone” TDB, sehingga dalam mengelola bisnis kurang serius.
7. Setiap ada problem bisnis selalu menghindar atau diambangkan dan meminta orang yang saya beri amanah mengelola bisnis untuk menyelesaikannya, padahal problem tersebut cukup mudah solusinya.
Selalu “excuse”… NANTI akan saya benahi kalau sudah Resign TDB… NANTI saya selesaikan kalau pas Cuti… NANTI saya beresi kalau pas Harpitnas (hari kejepit nasional, libur TDB 3 hari, red).
Pokoknya segudang NANTI… (…lalu kapan ACTION-nya ya ???)
8. Saya selalu beralasan sibuk bekerja di Jakarta atau sedang travelling keliling Indonesia dan tidak bisa datang ke Klaten untuk menyelesaikan problem bisnis yang sedang dihadapi.
9. Last but not least… harga yang harus saya tebus luar biasa dahsyat, menghancurkan jiwa yang sedang menjalani “proses detoxsifikasi mindset”, dari TDB menjadi TDA (silahkan baca lebih lengkap di artikel “Enggak enaknya jadi TDA”, red).
Rangkuman benang merah perjalanan menuju TDA selalu berujung pada “waktu”, yakni… kapan kita mulai “real action”.
Kita punya pilihan yang sama dan hanya kita yang bisa mengambil keputusan pilihan tersebut… apakah action mulai hari ini.. apakah action akan dimulai besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau… hanya sekedar wacana, omdo, NATO… sehingga cuma jadi penonton.. pengamat…??
Saya selalu ber-andai2 untuk memotivasi diri, agar tidak terjebak lagi dalam problem “comfort zone” (meskipun sudah TDA) … yah… andaikan peristiwa babak belur itu saya alami 15 tahun lalu, saat ini saya pasti sudah meraih BIG DREAM.
Andaikan proses detoxsifikasi itu saya alami 20 tahun lalu… andaikan saya tidak terjebak dalam candu “comfort zone” TDB… andaikan saya tidak selalu “excuse”… andaikan saya bisa mengganti kata NANTI dengan kata ACTION… andaikan saya… andaikan….
Pada akhirnya saya bersujud menyebut nama Allah… puji syukur atas semua kenikmatan cobaan yang sudah saya alami… puji syukur atas jalan dan kemudahan yang diberikanNya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi…
Jalan masih terbentang panjang… semoga saya selalu diberi keikhlasan dan kesempatan untuk “bersama menebar rahmat”… semoga saya selalu dianugerahi waktu agar dapat berkarya dengan hati untuk “memberi dan melayani” masyarakat luas… Amin.


