Tepat pada hari ini, Sabtu 08 September 2007, genap 22 tahun saya mengarungi bahtera rumah tangga bersama isteri tercinta.
Puji syukur kepada Allah, yang sudah memberi karunia paling hebat dalam hidup, yakni seorang isteri yang sangat setia menemaniku dalam suka dan duka, serta 4 anak cantik dan cerdas buah cinta kami.
Two thumbs up untuk isteri tercinta, yang berani mengambil risiko menjadi isteri seorang “pengangguran” 22 tahun yang lalu, yang belum jelas masa depannya.
Tahun 1985 merupakan tahun paling kelabu, yakni tidak punya status profesi yang bisa dibanggakan, bukan seorang TDB, apalagi TDA. I was really jobless…
Namun 1985 juga merupakan tahun yang paling membahagiakan dalam kehidupan saya, karena saya berani mengambil keputusan untuk menikahi isteri tercinta.
Keputusan yang mempengaruhi perjalanan TDB dan TDA saya, keputusan yang mampu memompa andrenalin agar selalu “survive” di saat terpuruk, pada saat jatuh di titik nol dan kandas terlibas hiruk pikuk dunia.
Lembaga perkawinan yang sakral selalu memberi keajaiban dalam kehidupanku… yang selalu memberi pencerahan di saat sedang sedih… yang selalu melambungkan karir TDB… yang selalu memberiku kreativitas dalam meniti karir TDA… yang selalu memberiku kelembutan di saat aku sedang marah…
Last but not least.. untuk isteri dan anak2ku… I LOVE YOU SO MUCH…. tanpa kalian aku tidak bisa berbuat apa-apa…
Aku bersujud penuh syukur menyebut nama Allah…. atas karunia tak terhingga yang sudah aku terima dalam hidup… Amin.


