Hari hari silaturahmi.

cartoons_215.gif 

Sejak medio Desember 2007 sampai akhir Desember 2007, catatan perjalanan hidup saya dipenuhi dengan acara silaturahmi sedulur2 komunitas TDA Jakarta dan TDA Joglo.

Acara silaturahmi dimulai pada tanggal 19 Desember 2007 pada saat digelar acara “Ja..Jogja..Jogja” dari TDA Joglo untuk menyambut sedulur tercinta dari Jakarta, yakni mas Harmanto dan mbak Ning Harmanto beserta tim dari PT Mahkota Dewa Indonesia.

Acara gayeng dan sarat kekeluargaan yang berlangsung di rumah saya tersebut dihadiri oleh sekitar 30 orang TDA’ers Joglo.
Acara dimulai dengan perkenalan dari semua anggota TDA Joglo, terus dilanjut dengan acara pokok yang dipandu dengan ciamik dan penuh gelak tawa oleh mbak Ning Harmanto.

Pemaparan sharing bisnis global dari mbak Ning yang fenomenal membuat terpana semua audiens yang hadir, apalagi ditambah dengan sesi ramalan garis tangan yang membuat heboh ruangan…. (he..he..he.. memang paling bisa mbakyu yang satu ini !!).
Acara diakhiri dengan “hypnosis in praying” dari mbak Ning yang membuat semua hadirin tertidur pulas sesaat, bahkan diriku sampai tertelungkup dalam tidur.. ha..ha..!!

Tanggal 20 Desember 2007 malam, saya sekeluarga mendapat kehormatan dikunjungi pasutri mas Harmanto dan mbak Ning Harmanto.
Malam ini kami lebih banyak membahas kolaborasi peluang2 bisnis yang dapat digarap bersama, serta berbincang tentang eksistensi dan saran2 untuk komunitas TDA Joglo agar dapat lebih berguna bagi masyarakat banyak.

Tanggal 21 Desember 2007, acara kunjungan ke rumah bisnis mas Hatta di Klaten bersama mas Harmanto dan mbak Ning.
Mas Harmanto sharing pengalaman hidupnya yang selalu melanglang buana di seantero jagad dan sharing kajian2 berbagai jenis management… wow.. luar biasa prima bro !!!
Malam harinya mas Harmanto, mbak Ning, tim Mahkota Dewa dan mas Hatta menginap di rumah saya.

Tanggal 22 Desember 2007, rombongan yang terdiri dari mas Harmanto, mbak Ning, tim Mahkota Dewa, mas Hatta, mas Bjoern (sahabat dari Jerman), mbak Orly (pasangan mas Bjoern), saya dan isteri pergi ke Wonosobo.
Sepanjang perjalanan selalu tertawa ngakak mendengarkan humor2 mbak Ning Harmanto dan mas Bjoern… It’s unforgotable memories of journey… !!! 

Di Wonosobo mengunjungi sedulur kinasih mas Hadi “Suryo” Kuntoro, raja selimut Jepang yang bisninya spektakuler serta adik beliau, mas Yoyox.
Ciri khas setiap silaturahmi di antara sedulur TDA adalah akrab, kekeluargaan, full guyon dan tidak lupa menjalin networking peluang bisnis yang mungkin bisa dikolaborasi.

Di Wonosobo pula kami berpisah dengan sedulur kinasih, mas Harmanto & rombongan yang akan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.
Selamat jalan sedulurku dan sampai jumpa di Milad ke 2 TDA di Jakarta.

Tanggal 23 Desember 2007, saya sekeluarga menjumpai mbak Yulia yang didampingi the dream team (mas Ari Nugroho dan Caca), di resto Red House, Solo.
Mbak Yulia merupakan salah satu founder komunitas TDA Jakarta sekaligus owner dari jaringan MOZ5 Salon di Jabodetabek.
Silaturahmi di Solo ini dihadiri pula beberapa TDA’ers Joglo, yakni mas Riza, mas Hatta dan mas Sangaji.

Tanggal 24 s/d 28 Desember 2007, liburan sekaligus temu kangen di Klaten dengan para sedulur kandung dan para ipar, yang datang dari beberapa kota besar di Indonesia.

Komplit sudah kegembiraan dan kebahagiaan yang menyelimuti saya sekeluarga di akhir tahun 2007 ini.
Puji syukur kepada Allah atas semua anugerah yang berlimpah ini. Amin.

Dari karyawan menjadi pengusaha (4).

cartoon_53.gif 

Tahun 2000 - 2003 merupakan tahun2 detoksifikasi mindset karyawan menuju mindset pengusaha, yakni masa transisi dari “comfort zone” karyawan menuju “wild jungle zone” pengusaha.

Di tahun 1998 saya sudah merencanakan resign sebagai karyawan pada tahun 2001, justru pada saat itu saya sedang berada di puncak karir sebagai Finance Manager di perusahaan konstruksi papan atas di Jakarta.

Faktor2 yang mempengaruhi saya untuk resign sebagai karyawan antara lain :
1. Saya menginginkan kebebasan jiwa, yakni kebebasan dalam berkarya dan ingin mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang dapat “memberi dan melayani” kepada masyarakat.
Sesuatu yang mustahil didapatkan apabila saya masih bersatatus sebagai karyawan, karena sebagai karyawan tentunya saya terikat dengan seabreg sistem & prosedur yang memang lazim dalam suatu korporasi.

2. Saya ingin mengikuti jejak keteladanan yang ditinggalkan almarhum orang tua dalam “memberi dan melayani” kepada  masyarakat.
Sepanjang hidupnya beliau selalu berlandaskan falsafah “memberi dan melayani “ dan saya menyaksikan langsung serta ikut merasakan kedamaian yang diciptakan beliau di dalam hidup bermasyarakat, berinteraksi dengan koleganya, begitu juga di dalam bahtera rumah tangga beliau.
That’s the funtastic life… so what ? Pada prinsipnya saya mengadopsi falsafah beliau dan saya hanya memodifikasi sedikit agar sesuai dengan “passion” saya pribadi.

3. Meskipun produktivitas sebagai karyawan masih OK, namun kesadaran akan segera memasuki masa “pensiun” selalu membuat hati tidak nyaman, karena usia saya sudah 45 tahun.
Saya ingin pensiun dengan nyaman dan damai bersama keluarga, yakni pensiun dengan kondisi “bebas finansial”.

4. Saya ingin lebih dekat dan mempunyai banyak waktu kepada keluarga, karena selama  25 tahun berkarir sebagai karyawan saya sering travelling keluar kota meninggalkan keluarga.
Saya selalu “guilty feeling” terhadap isteri dan putri2 saya. Saya sering menomorduakan keluarga dan lebih mementingkan karir pribadi sebagai karyawan.
Sehingg terlalu naif apabila saya sering mengatakan, bahwa ”saya berkarya untuk keluarga”, pada kenyataannya saya justru sering tidak hadir di saat keluarga memerlukan eksistensi saya sebagai kepala keluarga.

“Waktu” yang merupakan asset paling berharga milik saya telah saya gadaikan ke perusahaan tempat saya berkarya. Sunguh ironis… saya lebih menghormati “mesin absen” di kantor (agar tidak dipotong uang transport + uang makan) dari pada rengekan anak2 agar diantar ke sekolahnya, yang nota bene hanya perlu waktu tempuh 5 menit dari rumah tinggal.

Oh my God… I was stupid father… Maafkan papa yang telah menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga dengan kalian… saya telah kehilangan momen2 manis kebersamaan dengan anak2… !!! 

Contoh paling gamblang, saya belum pernah mengambilkan rapor anak2 saya pada saat kenaikan kelas, atau hadir pada saat anak saya sedang konser musik, atau pada saat anak sedang sakit dan harus berobat ke dokter, atau membimbing anak pada saat belajar, etc.. !!
Kontribusi saya sebagai kepala keluarga pada kewajiban2 tersebut “nyaris NOL”.
Hampir semuanya diborong dan dikerjakan penuh kasih sayang oleh isteri tercinta, tanpa didampingi saya sebagai suami. Special for my lovely wife… you are the great mother and wonderful wife forever… I am “nothing” without you… !!!

Saya terjebak dalam pemahaman yang salah, bahwa “kasih sayang dan perhatian kepada keluarga” dapat diganti dengan “materi yang berlimpah” dari penghasilan yang menyita sebagian besar waktu berharga saya.

Materi yang cukup memang diperlukan dalam menunjang kualitas kehidupan, namun jauh lebih bijak apabila sebagian besar waktu dapat kita selaraskan penggunaannya… pembagian waktu yang proporsional antara keluarga dan karir, sehingga kita tidak kehilangan momen2 manis bersama isteri dan anak2 tercinta.

Faktor2 tersebut di atas yang meng-akselerasi keinginan pindah kuadran, agar kualitas kehidupan keluarga dapat lebih baik.

Target waktu yang cukup pendek untuk pindah kuadran membuat saya sering mengambil  keputusan penting dengan ceroboh dan menggampangkan problema atau risiko yang akan saya pikul.

Keputusan membentuk bisnis baru di bidang sapi perah merupakan studi kasus ketidakcermatan saya dalam mengambil keputusan. Saya nekad terjun ke dalam bisnis sapi perah meskipun sudah tahu selalu mengalami Cash Flow negatif setiap bulannya.
Pada waktu itu saya mempunyai asumsi, bahwa apabila saya suntik dengan tambahan modal kerja dan investasi penambahan jumlah sapi perah, maka produksi susu akan bertambah banyak dan Sales akan mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga Cash Flow akan menjadi positif.

Well… harapan dan fakta di lapangan jauh berbeda… semua proyeksi Cash Flow yang diberi asumsi canggih dan tercetak rapi di kertas, hwarakadah…. babak belur di lapangan bro !!!

Problema SDM yang tingkat keluar masuknya tinggi merupakan problem utama, karena sapi perah merupakan mahluk hidup yang setiap hari harus diberi makan dan diperah susunya.

Setiap kali ada karyawan yang tidak masuk, dapat dipastikan aktivitas perusahaan terganggu… produksi susu sapi anjlok… yang tentu saja akan menurunkan Sales.

Jumlah sapi perah yang bertambah menimbulkan problema pengadaan pakan ternak, karena kuantitas pembelian pakan harus lebih banyak dan pada waktu itu belum mengetahui suplier resources pakan ternak yang dapat diandalkan deliverynya. Akibatnya hampir setiap hari pontang panting hunting pakan ternak.

Problema paling parah adalah dari sisi Cash Flow, yakni :
1. Dana untuk investasi penambahan sapi perah sangat signifikan, sehingga sebagian cadangan dana untuk operasional sehari-hari ikut tersedot.
2. Aliran Cash In dari hasil penjualan susu sapi sering molor melebihi target 15 hari, bahkan pernah pembayaran dari penjualan susu diterima setelah berumur 28 hari.
3. Volume pembelian pakan ternak yang bertambah banyak menyebabkan gangguan yang serius dalam Cash Flow

Ujian detoksifikasi perubahan mindset makin komplit… karena kelak setelah berjalan beberapa tahun… saya menemukan kecurangan yang dilakukan oleh sepupu saya sendiri… orang yang paling saya percaya sekaligus partner bisnis handal di dalam mengelola jaringan bisnis Betiga Klaten.

Hwarakadah….. saya menemukan kecurangan tersebut justru pada saat saya sudah resign dari karyawan dan memulai profesi baru saya sebagai full pengusaha. 

Jujur saja… saya mengalami kepanikan dan gamang menghadapi kehidupan, karena saya sudah tidak lagi mempunyai gaji sebagai karyawan… di sisi lain 4 orang anak sudah semakin tumbuh kembang, yang memerlukan dana pendidikan lebih banyak lagi sesuai dengan kenaikan strata pendidikannya.
Dan saya kurang menyiapkan mindset pengusaha kepada isteri, sehingga di antara kami seringkali terjadi “beda persepsi dan konsep” dalam profesi baru saya sebagai pengusaha.

Kepanikan… gamang menjalani kehidupan… “topeng2 bisnis”… strategi keluar dari badai problema… menyiasati keuangan dan mengelola rumah tangga paska resign… akan saya sharing dalam artikel berikutnya. 

My birthday… !!!

diddles_5.gif 

Hari ini, 23 Desember 2007, saya genap berusia 51 tahun.
Teman2 bilang : Lelaki “Seksi” (”Seket Siji”,  bhs Jawa neh !!!) Ha… Ha… Ha… !!!

Puji syukur kepada Allah atas anugerah jiwa raga yang sehat dan selalu diberi kesempatan mengaktualisasikan karya “memberi dan melayani” kepada masyarakat.

Terima kasih kepada isteri tersayang yang selalu merawat diriku dengan balutan cinta yang melimpah dan kepada keempat putriku yang selalu memberi inspirasi dalam karya.

Terima kasih kepada para kolega/mitra bisnis,  para sedulur komunitas TDA dan para pembaca Blog sederhana ini…. yang selalu memberi saya semangat untuk selalu berkarya dan berkarya.

Di keheningan pagi ini… aku bersujud syukur atas semua anugerah Allah yang melimpah. 

Stop Press…. !!!!

cartoon_7.gif 

Para pembaca Blog yang terhormat,
Saya bersyukur atas dimuatnya profil saya di majalah Duit … cara konkrit bikin duit… edisi No. 12/II/Desember 2007, halaman 56-57, dalam rubrik “Kuadran Baru”.

Terima kasih mas Eben Ezer Siadari, Pemimpin Redaksi majalah Duit… cara konkrit bikin duit, yang telah memuat Profil saya.

Artikel Profil tersebut berisikan perjalanan Pindah Kuadran saya dari Karyawan menjadi Pengusaha.

Para pembaca Blog yang terhormat… silahkan baca lebih komplit tentang Profil saya di majalah Duit… cara konkrit bikin duit…  edisi No. 12/II/Desember 2007, halaman 56-57, dalam rubrik “Kuadran Baru”.

Dari karyawan menjadi pengusaha (3).

cartoon_31.gif

Pada bulan November 1999 saya juga memulai bisnis ke 7 di Klaten, Jawa Tengah. Inilah cikal bakal bisnis yang kelak menjadi “flag carrier”, saya mulai mengenalkan brand BETIGA… wahana aktivitas profesi saya sebagai pengusaha !!!

Bidang usaha yang pertama kali dikelola Betiga adalah jual beli sapi potong dan bisnis diawali dengan skala kecil dahulu, bahkan belum punya kandang sapi sendiri, jadi sapi masih dititipkan di kandang milik famili.

Wow… ada yang lebih heboh, Modal berupa uang yang saya keluarkan pertama kali adalah Rp 900.000,-
Yuupp betul… Sembilan Ratus Ribu Rupiah saja.
Jumlah tersebut dipakai untuk biaya pasang 1 line “nomor cantik” PSTN (telephone dari Telkom) sebesar Rp 400.000,- dan Rp 500.000,- digunakan sebagai panjar pembelian 1 ekor sapi potong yang berharga Rp 3.500.000,-

Seminggu kemudian, pada saat saya akan melunasi pembelian sapi, cihuy… famili yang mengurus sapi memberi informasi, bahwa sapi yang akan saya lunasi tersebut malahan sudah laku terjual sebesar Rp 4.150.000,-
So… saya yang seharusnya melunasi kekurangan pembayaran sapi sebesar Rp 3.000.000,-, eh… saya malah menerima transfer uang sebesar Rp 4.150.000,- dari hasil penjualan sapi.

Alhamdulillah…. dapat keuntungan Rp 650.000,- (dihitung dengan kaidah Akuntansi) dari penjualan perdana bisnis sapi.
Namun apabila dilihat dari Arus Kas, hmm beda banget… di mana ada Arus Kas Masuk sebesar Rp 4.150.000,-, sementara Arus Kas Keluar hanya sebesar Rp 900.000,- (uang panjar sapi + pasang telpon), sehingga terjadi Arus Kas Positif sebesar Rp 3.250.000,-

Saya selalu tersenyum apabila teringat transaksi perdana ini… saya “serasa” pengusaha kelas kakap… ha…ha…ha… karena saya hanya melakukan :
1. Via telpon (posisi saya di Jakarta, famili saya di Klaten), yakni dari informasi tentang adanya penawaran sapi yang dijual di bawah harga pasar, pengambilan keputusan agar sapi dibeli, sampai pada keputusan sapi setuju dijual.
2. Via ATM, yakni pada saat transfer untuk pembayaran uang panjar sapi + biaya pasang telpon, serta pada saat menerima hasil penjualan sapi.

Seiring berjalannya waktu, bisnis sapi potong mulai tumbuh kembang dan pada titik ini saya mulai membuat “blunder” akibat mindset karyawan masih kental banget.

Saya TIDAK SABAR… saya ingin SHORT CUT… saya tidak mau mengikuti PROSES… saya ingin serba INSTANT…
Saya mestinya mengasah mindset pengusaha… saya seharusnya detoksifikasi mindset karyawan yang sudah puluhan tahun mengendap di sekujur jiwa… saya mestinya meninggalkan “comfort zone” karyawan…

Dan saya malah nekad mengambil keputusan untuk mulai merambah ke bisnis sapi perah… bisnis padat modal dan memerlukan keahlian khusus dalam merawat hewan.
Alasan utama saya pada waktu itu adalah penjualan sapi potong tidak dilakukan setiap hari, melainkan sebulan paling banyak dua kali transaksi.
Sedangkan penjualan pada bisnis sapi perah terjadi setiap hari, yakni dari susu sapi yang diperah setiap pagi dan sore.

Well… perjalanan babak belur dimulai, yakni sebagian besar hasil susu sapi dijual kepada pabrik susu bubuk ternama via KUD dengan harga jual “minim” yang sudah dipatok dari pabrik susu tersebut.

Derita makin bertambah karena pembayaran dari KUD dilakukan dua minggu sekali, sehingga membuat arus kas menjadi kembang kempis untuk menutup biaya pakan sapi dan upah langsung tenaga kerja.

Sedangkan sebagian kecil susu perah dijual bebas dengan harga jual yang “lumayan” kepada pelanggan2 Rumah Tangga sebagai pemakai langsung.
Hasil penjualan susu kepada pelanggan Rumah Tangga cukup membantu arus kas harian untuk menopang biaya pakan sapi yang lumayan besar.

Denyut bisnis yang “berkesinambungan” mulai saya rasakan, meskipun saya masih berstatus sebagai karyawan.
Saya sangat “menikmati dunia amphibi” saya, yakni seorang karyawan yang merangkap sebagai pengusaha.

Melihat prospek bisnis sapi yang “menggiurkan” tersebut, saya mulai serius menyiapkan rencana resign sebagai karyawan. Apalagi pada waktu itu, tahun 2000, buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki sedang “booming” di Jakarta, yang  membuat saya semakin termotivasi untuk pindah kuadran.

Pada waktu itu saya memakai “topeng”, meskipun saya tahu bisnis sapi perah mengalami “bleeding” arus kas, namun saya pura2 tidak merasakannya.
Saya gengsi mengakui kegagalan bisnis lagi di hadapan keluarga dan teman2…. saya tetap mempertahankan bisnis sapi perah tersebut, walaupun setiap bulan harus menambal arus kas yang compang camping !!!

Dan kemudian tibalah saatnya saya jatuh terhempas ke jurang yang paling dalam…. yang akan saya sharingkan dalam artikel “Dari karyawan menjadi pengusaha bagian ke 4″.