In memoriam : my inspired auntie.

frangipani-flowers.jpg 

Saya tersentak kaget ketika menerima berita wafatnya bulik (tante) Srimaryati Hadi Prajitno, Solo, tepat pada tanggal 5 Desember 2007 di RS Sarjito, Yogyakarta.

Beliau merupakan figur entrepreneur idola saya, yang selalu menjadi inspirasi saya dalam mengelola perusahaan.

Di balik tutur sapanya yang lembut terdapat fighting spirit seorang entrepreneur sejati, yang menasihati agar dalam berbisnis selalu menjunjung tinggi integritas.

Beliau selalu mengingatkan pentingnya menjaga amanah yang diberikan oleh stake holder, karena ”trust” adalah kata kunci apabila ingin sukses berbisnis.

Selamat jalan bulik Sri…. Rest in peace my inspired auntie…. !!!

Leverage bisnis.

sailorstars_wallpaper.jpg 

Setelah menjalani praktek mengelola perusahaan selama 5 tahun, saya menemukan beberapa hambatan yang membuat laju tumbuh perusahaan tidak seperti yang direncanakan.

Hambatan-hambatan yang saya alami dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
1. Sebelum menjadi pengusaha saya berprofesi sebagai karyawan selama lebih kurang 26 tahun, sehingga saya terbelenggu dengan mindset karyawan yang cenderung hati-hati dan kurang berani dalam mengambil risiko.
Mental blocking tersebut sungguh menghambat akselerasi tumbuh kembang bisnis.

2. Tidak mempunyai mentor bisnis yang membimbing dalam proses pembelajaran bisnis, ibarat masuk hutan belantara tanpa membawa alat bantu navigasi serta peralatan yang diperlukan.

3. Tidak bergabung dalam komunitas yang berorientasi bisnis, sehingga selalu merasa sendirian ketika mengalami problem bisnis.

4. Meskipun sudah mengetahui saat ini adalah era informasi, saya justru gagap teknologi informatika dan malas belajar know how informatika, sehingga arus informasi jadi terhambat dan selalu ketinggalan metode pengelolaan bisnis yang canggih.

5. Saya kurang menyiapkan mindset isteri dan anak-anak dengan mindset entrepreneur, sehingga terjadi gesekan saat terjadi perpindahan dari “comfort zone” karyawan menjadi “struggle zone” pengusaha yang sedang start up bisnis.
Saya merasa sendirian saat ber”proses” menekuni dan mengatasi problema bisnis yang datang silih berganti.

Setelah menyadari hambatan2 tersebut, dalam dua tahun terakhir ini saya melakukan perbaikan2 signifikan.
Seiring dengan berjalannya waktu serta “proses” yang sudah sering mengharu biru perasaan, maka hambatan2 mulai disingkirkan dengan beberapa cara, yakni :

1. Mendobrak mental blocking dengan membaca buku-buku motivasi, leadership, teknologi informatika, management serta finansial.
2. Bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat yang mempunyai visi sama.
3. Menjadi anggota komunitas yang berorientasikan bisnis serta aktif di dalam setiap aktivitas komunitas tersebut.
4. Melibatkan isteri dalam mengelola perusahaan dan pengambilan keputusan strategis bisnis, sedangkan anak-anak sering diajak ke kantor untuk mengenali profesi baru orang tuanya.
5. Mengajari anak dalam menangani pelanggan complain, menerima order via telpon dari pelanggan , input data , cara memesan produk kepada Principal, input data transaksi, dll… dll…
6. Belajar mengelola dana yang diperoleh dari fasilitas Kredit Modal Kerja perbankan dan menggunakan dana tersebut sebagai daya ungkit bisnis (leverage bisnis).

Hambatan sudah diidentifikasi dan solusi sudah dilaksankan, kini saatnya membuat lompatan-lompatan bisnis yang lebih atraktif dengan mendapat support penuh dari keluarga dan komunitas.