Antara silaturahmi, PA dan GTC.

Pestipal Angkringan

Selama satu minggu terakhir ini disibukkan dengan aneka aktivitas off-line di Jogya, Bantul, Solo dan Semarang.

Diawali acara sarasehan bersama sedulur-sedulur TDA Joglo dalam rangka silaturahmi dengan koko prabu Harmanto yang sedang berkunjung di Jogya.

Acara yang penuh guyon, gayeng dan guyub tersebut dihadiri sekitar 20 orang sedulur TDA Joglo, serta berlangsung di rumah Pringwulung dan baru berakhir pukul 02.30 dini hari.

Keesokan harinya dilanjut dengan kunjungan bisnis ke sentra pertanian organik di Bantul untuk menindak lanjuti kesepakatan kontrak kerja dengan kelompok tani beberapa waktu lalu.

Sekalian shooting proses produksi organik di sentra industri pertanian untuk dokumentasi dan materi content website.

Acara selanjutnya mengunjungi kota Solo untuk hunting pernak pernik kebudayaan Jawa yang akan menjadi content website.

Sabtu pagi, 19 April 2008, berangkat menuju ke Semarang menghadiri Pestipal Angkringan (PA) yang digelar oleh kolaborasi sedulur-sedulur TDA Semarang dan Jaringan Rumah Usaha (JRU).
Pestipal Angkringan diselenggarakan selama dua hari, 19-20 April 2008.

TDA’ers  Jogya dan Solo Raya ikut berpartisipasi dengan membuka stand dan menggelar produk di ajang Pestipal Angkringan tersebut.

Event PA yang dikemas dengan ciamik tersebut sarat dengan acara, antara lain :
* Talk show permodalan dan dunia UKM bersama Bank Indonesia, KADIN dan HIPPI Jawa Tengah.
* Seminar motivasi oleh motivator kondang Yusef Hilmi.
* Talk show bisnis berbasis komunitas oleh budayawan kondang Prie GS.

Senin, 21 April 2008, seharian mengisi acara Goes To Campus (GTC) Batch V - Universitas Sultan Agung di Semarang.

Acara yang digelar di Auditorium Fakultas Ekonomi Unissula tersebut berlangsung heboh dan diikuti dengan antusias oleh sekitar 120 mahasiswa.

Pada akhir acara kami diminta mentoring salah satu kegiatan entrepreneurship mahasiswa Fakultas Ekonomi Unissula.

 

Enam tahun silam.

Ketika sedang merapikan arsip surat-surat yang disimpan di File Folder, saya menatap 1 set berkas Surat Keputusan Direksi Tentang Pemberhentian Dengan Hormat Atas Permintaan Sendiri Sebagai Karyawan  tanggal 25 April 2002.

Ups… tanpa terasa saya sudah 6 tahun meninggalkan comfort zone karyawan dan otomatis pikiran  melayang set back 6 tahun silam ketika mulai memasuki wild jungle zone pengusaha.

Masih tergambar jelas betapa emosi saya campur aduk pada waktu itu, yakni :

** Rasa lega menjadi manusia yang terbebas dari rutinitas tugas dan tanggung jawab sebagai karyawan.

** Rasa galau memikirkan operasional sehari-hari perusahaan yang terasa jalan di tempat.

** Rasa gembira dapat berkumpul dengan keluarga sepanjang hari, walaupun hanya dengan isteri dan anak bungsu.

** Rasa kecewa karena dua anak sudah tumbuh menjadi remaja dan asyik dengan dunianya sendiri, sehingga kurang peduli dengan kehadiran saya di rumah, malahan anak ke dua pernah bilang “koq nggak kerja seperti dahulu lagi”… hiks.. !!!.

** Rasa puas dapat membaca buku-buku favorit yang belum sempat terbaca dan belajar praktek beberapa software komputer agar tidak terlalu gaptek.

** Rasa khawatir tentang laju tumbuh perusahaan yang baru didirikan dan dikelola sendiri bersama isteri.

** Rasa takut akan masa depan yang tidak pasti dan khawatir tidak dapat membahagiakan keluarga.

** Dan segudang emosi lainnya yang datang silih berganti.

Proses yang harus dijalani sungguh mengharu biru emosi, meskipun saya sudah menyiapkan segala hal sejak tahun 1997, lima tahun sebelum pindah kuadran menjadi pengusaha.

Ternyata hal paling fundamental dalam proses pindah kuadran adalah…. “merubah mindset” .

Pasokan LPG langka.

Saya sedang menikmati happy problem yang muncul dalam 10 hari terakhir ini akibat tersendatnya pasokan LPG kemasan 12 kg.

Disparitas harga LPG kemasan 50 kg dan LPG curah dengan harga LPG kemasan 12 kg yang signifikan membuat konsumen LPG kemasan 50 kg yang mayoritas industri, pindah ke LPG kemasan 12 kg yang seharusnya untuk konsumen rumah tangga.

Pakem demand supply yang tidak seimbang telah mengacaukan dan membuat gonjang ganjing pasar LPG kemasan 12 kg yang selama ini relatif tenang.

Akibat lebih lanjut dari perpindahan konsumen industri yang memerlukan tabung gas kemasan 12 kg adalah melambungnya harga tabung gas 12 kg yang membuat geleng-geleng kepala… nyaris tidak percaya.

Agen dan Sub Agen LPG setiap hari menerima complain dari pelanggan, karena volume pasokan LPG dikurangi dan tidak teratur lagi skejul pengirimannya.

Pada posisi seperti ini… melayani pelanggan sungguh sulit, meskipun sudah dijelaskan secara gamblang dan apa adanya, tetap saja pelanggan tidak percaya.

Entah sampai kapan problem pasokan ini dapat diatasi, kami mohon maaf tidak dapat melayani dengan baik.