Antara karyawan, wirausaha dan keluarga.

Kilas balik kehidupan, yakni ketika saya sekeluarga masih tinggal di Jakarta selama 11 tahun (1990-2001) dan masih berprofesi sebagai karyawan.
Meskipun tinggal dalam satu rumah, saya jarang bercengkerama dengan anak-anak, karena saya belum bangun tidur di pagi hari ketika anak-anak berangkat sekolah, dan anak-anak sudah tidur ketika saya tiba di rumah sepulang dari kantor.

Praktis dapat bercengkerama dengan anak-anak hanya di hari Sabtu dan Minggu, itupun dalam waktu yang tidak lama, karena saya lebih sering memanfaatkan waktu libur untuk tidur, agar stamina tetap terjaga untuk memulai rutinitas kerja di hari Senin.

Hubungan dengan anak semakin kurang akrab karena tuntutan tugas saya sebagai Financial Controller, yang mengharuskan sering bepergian keliling Indonesia untuk mengontrol (audit) finansial proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan.
Dalam satu bulan rata-rata travelling 3 kali @ 4 hari, jadi dalam satu bulan sekitar 12 hari berada di luar kota.

Kondisi tersebut membuat saya “guilty feeling” terhadap anak-anak, karena tidak mampu menyisihkan waktu, serta tidak dapat optimal dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.
Tidak heran apabila saya sering konflik dengan isteri karena perbedaan treatment dalam mengasuh anak.
Isteri mengutamakan rewards & punishment yang dikemas dalam koridor kasih sayang, atensi dan empati.
Sedangkan saya cenderung short cut, yakni memanjakan anak terhadap apapun yang diminta (sepanjang masih logis dan mampu menurut ukuran saya).

Yupp… itulah salah satu bentuk excuse untuk menebus guilty feeling kepada anak-anak.
Kelak saya akan mengalami kesulitan serius saat mengalami hambatan bisnis akibat kebiasaan “memanjakan anak” tersebut, yakni sulit menurunkan gaya hidup metropolitan yang sudah melekat pada gaya hidup anak-anak (yang nota bene memerlukan dana cukup signifikan). Sementara itu pada saat yang sama, bisnis sedang memerlukan suntikan modal kerja agar dapat survive.

It’s my mistakes and… blunder !!! Seharusnya bukan materi melulu yang diberikan kepada anak, namun mesti lebih banyak empati, atensi dan kehangatan kasih sayang sebagai ayah.

Faktor jarang ketemu keluarga ini pula yang menjadi salah satu alasan dan akselelator untuk pindah profesi menjadi wirausaha.

Setelah resign dan sedang menjalani “proses menjadi wirausaha”, muncul problem baru yang tidak diantisipasi sebelumnya, yakni proses pertumbuhan anak menjadi remaja.
Hal tersebut terjadi pada saat saya sekeluarga sudah hijrah ke Jogya dan sudah mempunyai lebih banyak waktu untuk berkumpul dengan anak-anak di rumah.

Saya kurang mengantisipasi, bahwa seiring bertambahnya waktu anak-anak akan tumbuh menjadi remaja, suatu periode di mana anak mencari jati dirinya sendiri, yang tentu saja sudah tidak mau lagi diatur dengan pakem ketika anak masih berusia kurang dari 12 tahun.

So what… ?? Saat ini saya sering kesepian di rumah, celoteh riang anak-anak sudah tidak ada lagi. Anak-anak sudah mempunyai dunia sendiri, dunia remaja yang penuh warna, suatu dunia yang sering tidak dimengerti dan terasa “kurang pas” ketika saya berstatus sebagai orang tua.
(Catatan untuk para orang tua, meskipun dahulu pernah remaja, namun era informasi saat ini sungguh membuat perbedaan yang sering bikin kita garuk-garuk kepala.. hahahaha…)

Apa yang saya harapkan ketika sudah berprofesi wirausaha, realisasinya “berbeda” dengan impian saya dahulu. Impian jiwa yang bebas memang sudah digapai, namun sekarang anak-anak sudah tumbuh menjadi dewasa dan remaja, sehingga :
* Anak sudah tidak mau digendong lagi, karena anak lebih suka hang out dengan gang-nya.
* Anak sudah tidak mau ditemani di saat tidur, karena anak lebih senang ditemani laptop.
* Anak sudah tidak mau dibacain dongeng lagi, karena anak lebih senang baca Harry Potter.

Saya harus merubah impian tentang keluarga, bukan lagi impian dapat bercengkerama dengan anak yang masih kecil, namun impian anak-anak yang bisa mandiri dan bertanggung jawab di dalam kehidupan ini.

Puji syukur kepada Allah, masih ada isteri tercinta yang selalu setia menemani perjalanan hidup, yang siap menampung keluh kesah semua problem, yang selalu menjaga amanah dan penuh kasih sayang dalam menjaga dan mendidik anak-anak, terlebih di saat saya bepergian ke luar kota.

Kini saya semakin menghormati isteri, yang selalu menemani suami ketika meniti karir karyawan, yang menjadi mitra handal dalam mengelola bisnis, dan yang selalu menjadi inspirator dalam keluarga. Inilah wujud nyata pengabdian dan pengorbanan luar biasa dari isteri.

(Reposting artikel blog tanggal 18 September 2007. Artikel diedit seperlunya, disesuaikan dengan kondisi saat ini.)

About these ads

3 thoughts on “Antara karyawan, wirausaha dan keluarga.”

  1. Sy agen aqua selama 2 th lebih.
    agen ke 1 sy naga jaya bangkrut
    Agen ke 2 sy ini klau naik harga gak bs turun, sedang di tempat lain sudah 10500.
    Sy tlpon halo aqua minta agen lain tapi tdk diksh, pdhal 1minggu paling banyak sy 300 galon. tp aneh nya halo aqua tdk mau ksh sy agen lain dengan alasan sy tdk bs ganti ke agen lain. aneh sy tdk perna utg sy selalu kes byar. krna sy jual paling mahal skrg2 ini semingu 100 galon pun gak habis. sy mau pesen yg truk aqua galon saja bagaimana ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s