Tag Archives: Risk taker

Cara memulai bisnis | SKALA KECIL |

Langkah berikutnya setelah mempunyai MIMPI dan siap ACTION, tiba saatnya untuk memulai bisnis dari SKALA KECIL.
Mengapa cara memulai bisnis dari skala kecil, meskipun anda mempunyai dana modal yang cukup besar ?

Ada beberapa aspek dan karakter yang perlu dipahami, khususnya bagi yang baru pertama kali terjun ke dunia bisnis :

  • Aspek bisnis berbeda dengan aspek kekaryawanan, khususnya pada aspek tanggung jawab dan risiko.
  • Pengusaha harus memahami aspek management : MARKETING, OPERASIONAL, FINANSIAL dan SDM.
  • Pengusaha harus memiliki karakter leadership, risk taker, entrepreneurship dan seabreg kriteria lainnya yang harus dilatih dan dipahami.

Tahap Perencanaan.

  • Cara memulai bisnis dari skala kecil. Pada tahap ini belajar mengenali apabila terjadi risiko bisnis (baca : kerugian, kegagalan). Risiko bisnis dapat terukur, yakni sebesar modal uang (misal Rp 1.000.000,-) yang diinvestasikan dalam perusahaan.
  • Pilih bidang bisnis yang berkaitan dengan kesenangan (hobi) anda, sehingga hati selalu gembira dan mempunyai passion ketika mengelola bisnis. Dengan kata lain, anda harus mencintai bidang bisnis yang dipilih, karena pada saat menjalankan bisnis akan mengalami hambatan yang berbeda-beda.
  • Tentukan waktu definitif saat anda ingin resign sebagai Karyawan dan full sebagai Pengusaha (misal : 3-5 tahun lagi dari tahun 2012, atau pada saat anda berusia 35-38 tahun)
  • Mulai membangun network / jejaring dengan lingkungan bisnis (misal : pemasok produk / jasa, pengusaha di lingkungan anda, asosiasi bisnis, komunitas bisnis, dll)

Tahap Evaluasi.

  • Berhentilah sejenak pada saat kerugian bisnis sudah mencapai Rp 1.000.000,- kemudian dibuat analisa penyebab kerugian bisnis yang utama.
  • Jangan sungkan untuk minta pendapat/advis (sebagai second opinion) dari rekan/famili yang berprofesi Pengusaha atas kerugian yang dialami.
  • Setelah memahami penyebab kerugian/kegagalan bisnis pertama dan mengetahui solusinya, bersiaplah untuk memulai bisnis kedua.

Cara memulai bisnis kedua masih dengan modal kerja yang minimalis, misal Rp 1.000.000,- dan di bidang bisnis yang sama dengan bisnis yang pertama (kecuali kalau bidang bisnis pertama tersebut memang tidak layak lagi untuk dilanjutkan)

Perbedaannya adalah, bisnis kedua akan dikelola dengan ketrampilan bisnis yang lebih ciamik, karena anda sudah lulus melewati ujian pertama sebagai Pengusaha, yakni sudah berani action (bukan wacana lagi… hehehe…) dan berani mengambil risiko bisnis yang terukur (mengalami kerugian), serta bangkit lagi dari keterpurukan (memulai bisnis kedua).

Pada titik ini anda sudah pada posisi on the right track sebagai pengusaha, yakni proses bangkit lagi setelah mengalami kegagalan bisnis.
Selamat datang di dunia bisnis yang menjadi impian anda. Tumbuh kembangkan bisnis sesuai dengan passion anda.

Well… setiap hambatan bisnis pasti ada solusinya, jadi mulailah belajar segala hal dalam proses bisnis ini, terlebih dalam hal mengelola waktu dengan efisien dan efektif, karena anda mempunyai profesi ganda sebagai : Karyawan dan Pengusaha.

JK : “Leadership” dan “Leaderless”

Saya diundang bicara di mana-mana. Saya menangkap adanya kegalauan, bahkan rasa pesimistis di kalangan anak muda melihat kehidupan bangsa kita. Memang banyak problem, tapi tetaplah optimistis. Jangan pernah patah semangat,” papar Jusuf Kalla, disambut tepuk tangan puluhan mahasiswa Indonesia di Universitas Curtin, Perth, Australia.
Wakil Presiden RI 2004-2009 yang kini Ketua Umum Palang Merah Indonesia itu medio Juni lalu berkunjung ke Australia.

Selain bertemu mitranya dari Red Cross, ia juga memenuhi undangan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia untuk memberikan kuliah umum, ”JK Leadership”.
Mahasiswa itu datang dari berbagai jurusan di perguruan tinggi dan sejumlah kota. JK juga berceramah di Australian National University (ANU). Peserta di universitas terkemuka ini malah lebih banyak, sekitar 200 orang.
Bahkan sejumlah dosen ANU yang spesialisasi kajiannya tentang Indonesia ikut mendengarkan kuliah JK dengan antusias.

Pertanyaan umumnya menyangkut berbagai persoalan bangsa dan cara pemimpin mengatasinya.
JK tidak mengupas teori-teori ideal kepemimpinan. Sebagai pengusaha, ia malah lebih banyak memaparkan contoh konkret apa yang dilakukannya sejak masuk pemerintahan sebagai menteri sampai menjadi wakil presiden.

Peserta pun malah lebih banyak bertanya seputar peran dan kepemimpinan JK dalam upaya penyelesaian konflik di sejumlah daerah, seperti Ambon, Poso, dan Aceh. Begitu juga kepemimpinannya dalam penanganan bencana, terutama tsunami yang menghancurkan Aceh.

Intinya, pemimpin harus get things done, mengambil keputusan dan kebijakan, menggerakkan anak buah menjalankan perubahan ke arah yang lebih baik, mengambil risiko dan tanggung jawabnya, memonitor kebijakan untuk berjalan dengan baik, tidak menyalahkan anak buah.

”Kita harus akui begitu banyak problem. Karena itu, jangan hanya lihat sisi negatif suatu problem yang ada. Lihat juga sisi positifnya. Kalau melihat sisi positif, pasti ada optimisme. Kalau tetap optimis, bersemangat, yakinlah kita akan bisa mengurusi negara dan dapat menyelesaikan persoalan bangsa ini,” katanya.

Continue reading