Evaluasi kiprah bisnis (part 1)

Setelah menggeluti beberapa bisnis sekaligus dalam waktu 5 tahun terakhir, tampak benang merah perbedaan fundamental bisnis yang berdampak pada laju tumbuh korporasi.

Titik tolak waktu adalah medio tahun 2002, paska saya mengundurkan diri (resign) sebagai karyawan.

Evaluasi pertama adalah korporasi bisnis distribusi Betiga Klaten dan asrama/kost putri Betiga Yogya, sebagai “flag carrier” bisnis saya, menunjukkan laju tumbuh yang signifikan.

Korporasi yang 100% modalnya dimiliki keluarga serta dikelola sendiri secara langsung, sehingga kecepatan dalam mengambil keputusan penting dapat dilaksanakan setiap saat.

Terlebih dalam menentukan falasafah dan culture bisnis yang pas, hal ini berdampak pada akselerasi laju tumbuh korporasi, sehingga “roh” bisnis terasa sekali aura-nya.

Setiap kali mengalami problem bisnis yang serius dapat cepat “exit”, bahkan setiap problem tersebut nyaris selalu menjadi pertanda leverage korporasi.

Bahkan untuk menghindari comfort zone bisnis, saya terkadang menciptakan problem positif di korporasi, misalnya menambah investasi armada distribusi.

Dengan bertambahnya armada distribusi otomatis andrenalin dipacu, agar armada tidak mengalami idle capacity.

Untuk kost putri diciptakan problem positif berupa renovasi properti yang memerlukan dana tidak sedikit, sehingga kreativitas muncul dalam mencari sumber pendanaan renovasi.

Semua langkah kebijakan bisnis selalu berpijak pada falsafah “memberi dan melayani”, fokus terhadap kepuasan stake holders, dan kualitas pelayanan yang selalu lebih baik.

Seringkali kebijakan bisnis tersebut melanggar kelaziman pakem berbisnis, baik dari sisi marketing, teknis operasional, finance maupun SDM.

Kebijakan yang tidak lazim tersebut antara lain, menghibahkan 40 % saham korporasi Betiga Klaten kepada Kopkar Betiga Klaten.

Kebijakan lain yang keluar pakem… Setelah korporasi yang akan dijadikan andalan hidup ternyata bangkrut dan ditutup pada tahun 2003 (padahal sudah resign sebagai karyawan), saya mendirikan Betiga Klaten dan mengambil kebijakan untuk membagikan profit setiap bulan kepada karyawan dengan prosentase sama besar dengan prosentase saya sebagai owner korporasi.

Alhamdulillah sampai saat ini saya masih konsisten dengan kebijakan tersebut, meskipun korporasi sudah berkembang pesat.

Satu hal yang selalu mewarnai passion saya berbisnis, yakni : selalu berbisnis dengan hati, selalu bersyukur dan… setiap saat ikhlas !!!

Seperti yang selalu dipesankan ayah almarhum, bahwa 10-1 = 20. Thanks Dad…

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Evaluasi kiprah bisnis (part 1)”

  1. Mas Agung,
    Thanks sudah mampir di blog sederhana ini.
    Pertahankan terus semangat yang ada di hati, jangan sampai padam.
    Semoga bisnis mas Agung tambah sukses.

    Salam entrepreneur,
    Bambang Triwoko.

  2. pengalaman pak bambang sangat menyentuh nih…. jatuh bangun dlm mbangun usaha
    saya jadi tambah semangat & g takut jatuh lg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s