Antara TDB, TDA dan Keluarga.

cartoons_tex_avery014.jpg

Saya tergelitik membaca postingan mas Hadi Kuntoro di millist TDA tentang “Maunya mandi sama ayah…”.

Tampak nyata kilas balik kehidupan… ketika saya sekeluarga masih tinggal di Jakarta selama 11 tahun (1990-2001) dan berstatus TDB.
Meskipun tinggal dalam satu rumah.. saya jarang bercengkerama dengan anak2.
Saya belum bangun tidur di pagi hari ketika anak2 berangkat sekolah, dan anak2 sudah tidur ketika saya tiba di rumah, sepulang berkarya sebagai TDB.

Praktis dapat bercengkerama dengan anak2 hanya di hari Sabtu dan Minggu, itupun dalam waktu yang tidak lama, karena saya lebih sering memanfaatkan waktu libur untuk tidur, agar stamina tetap terjaga untuk memulai rutinitas di hari Senin.

Sungguh… suatu siklus TDB yang melelahkan dan memasung kebebasan jiwa, namun harus saya jalani sebagai suatu “proses” menuju dream TDA.
Hubungan dengan anak makin kurang akrab karena tuntutan tugas sebagai TDB (financial controller), yakni sering travelling keliling Indonesia mengontrol financial proyek2 yang dikerjakan perusahaan TDB.
Dalam satu bulan rata2 travelling 3 kali @ 4 hari, jadi dalam satu bulan minimal 12 hari berada di luar kota.

Sungguh kondisi yang membuat saya “guilty feeling” terhadap anak2, karena tidak mampu menyisihkan waktu untuk anak serta tidak dapat optimal dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak.
Tidak heran apabila saya sering konflik dengan isteri karena perbedaan “treatment” mengasuh anak. Saya cenderung “short cut” memanjakan anak apapun yang diminta (sepanjang masih logis dan mampu, menurut ukuran saya).

Inikah salah satu bentuk excuse untuk rasa “guilty feeling” saya ?? It’s my mistakes and… blunder !!!
Seharusnya bukan materi… namun perhatian dan kehangatan kasih sayang. Alasan keluarga ini pula yang menjadi salah satu akselelator untuk pindah quadrant ke TDA, di samping alasan dream TDA dan bebas finansial di saat pensiun 2010.

Namun pada saat menjalani “proses TDA” muncul problem baru yang belum saya antisipasi, yakni pada saat sudah hijrah ke Jogya dan lebih banyak waktu untuk berkumpul dan bercengkerama dengan anak2.

Saya tidak menyadari sepenuhnya, bahwa seiring bertambahnya waktu… anak2 sudah tumbuh menjadi remaja… suatu periode di mana anak2 mencari jati dirinya sendiri, yang tentu saja sudah tidak mau lagi diatur dengan pakem semasa masih anak kecil.

So what… ??? Saat ini saya sering kesepian di rumah, celoteh riang anak2 sudah tidak ada lagi… anak2 sudah mempunyai dunianya sendiri… dunia remaja yang penuh warna… dunia yang sering tidak dimengerti dan terasa tidak pas ketika saya menjadi orang tua (padahal saya juga pernah menjadi remaja… hik..!!).

Apa yang saya harapkan ketika sudah menjadi TDA agak berbeda dengan dream saya… jiwa yang bebas memang OK… namun anak2 kecil saya sekarang sudah tumbuh menjadi remaja..
..yang sudah tidak mau di-gendong2 lagi, karena anak2 lebih suka hang out dengan gang-nya..
..yang sudah tidak mau ditemani kalo tidur, karena anak2 lebih senang ditemani MP3 player…
..yang sudah tidak mau dibacain dongeng lagi, karena anak2 lebih senang baca Harry Potter…

Puji syukur kepada Allah… karena masih ditemani isteri tercinta yang selalu setia menemani perjalanan hidup… yang siap menampung keluh kesah semua problema… yang selalu menjaga amanah dan penuh kasih sayang dalam menjaga dan mendidik anak2, terlebih di saat sering saya tinggal travelling ke luar kota.

Saya sungguh semakin menghormati isteri… pengorbanan luar biasa dari isteri, yang selalu menemani suami ketika meniti karir TDB… yang menjadi partner hebat dalam mengelola bisnis TDA… yang selalu menjadi inspirasi dahsyat di dalam Keluarga.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Antara TDB, TDA dan Keluarga.”

  1. Dear mbak Puspa,
    Terima kasih sudah mampir di rumah maya.
    Siklus kehidupan selalu mengalir, selalu ber”proses”…
    Kunci menikmati kehidupan sudah dipegang mbak Puspa, yakni : SABAR.
    Salam sukses untuk mbak Puspa sekeluarga.

    Regards,
    Bambang Triwoko – Jogya.

  2. Yth. P’ Bambang Triwoko
    Tulisan Bapak ini… mengingatkan saya
    pada apa yang pernah terlintas dalam benak saya
    dan juga dalam pembicaraan dengan suami…
    bahwa akan tiba masa dimana anak-anak mulai tumbuh
    dan lebih asyik dengan dunianya sendiri….
    karena itu, masa-masa sekarang saya jalani dengan sabar
    ya… masa-masa ‘sibuk’ saat anak-anak masih kecil seperti sekarang
    karena saya yang masih TDB, jadi waktu ‘mepet’
    pagi sebelum berangkat kerja harus sempat siapkan anak-anak sekolah
    pulang kerja, malam harus sempatkan temani mereka belajar
    karena itu… saya merintis usaha sendiri
    melalui dunia online…..
    yang memungkinkan saya malam dan saat libur kerja
    ada di rumah, ada diantara anak-anak…..
    Terimakasih P’ Bambang atas tulisannya
    membuat saya semakin bersemangat sebagai ‘amphibi’
    semoga sukses ya Pak…

    salam sejahtera,
    puspabali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s