Dari karyawan menjadi pengusaha (1).

cartoon_296.gif

Ketika masih sekolah di SMP (1970-1972), saya mempunyai impian menjadi pengusaha seperti figur alm. Om Soenarno (adik alm. ibu saya) dan alm. Bulik Sri Maryati (adik alm. ayah saya).
Kedua beliau ini kehidupannya sukses dan selalu menjadi teladan di dalam keluarga besar.

Perkenalan saya dengan dunia bisnis dimulai pada tahun 1987, ketika saya menjadi karyawan di Project Management Unit (PMU) yang memperoleh pendanaan dari CLUSA (Himpunan Koperasi di Amerika) dan bergerak di bidang Agrobisnis di Jawa Tengah.

Saya dan rekan kerja menggalang kerja sama dengan kelompok tani untuk menanam jagung hibrida yang akan diolah sebagai pakan ternak sapi.
Pohon jagung yang dipanen disetorkan kepada salah satu unit PMU untuk diproduksi menjadi silage (pakan ternak).
Di samping bisnis pohon jagung kami juga berbisnis pengadaan padi jenis Rojolele dan menjualnya ke Supermarket2 setelah dikemas dalam packing plastik @ 5kg.
Sayang sekali bisnis yang berjalan mulus tersebut harus ditutup karena saya resign dari PMU, berhubung saya tidak cocok dengan gaya kepemimpinan sang General Manager yang arogan dan kurang manusiawi.

Setelah resign dari PMU langsung bermitra dengan kawan bermain di usia remaja, berbisnis Bengkel Las dan jasa Penyewaan Truck. Inilah bisnis ke 2 yang saya jalani pada tahun 1988.

Berhubung masih awam berbisnis dan masih kental mindset karyawan yang “aman”, maka saya tidak puas dengan hasil yang diperoleh dari bisnis Bengkel Las dan Penyewaan Truck tersebut.
Kondisi tersebut diperparah dengan perilaku kawan saya yang kurang transparan dalam pelaporannya.
Di sisi lain keluarga terdekat selalu menasihati agar menjadi karyawan lagi, sehingga saya akan mempunyai penghasilan yang tetap lagi (baca : aman).
Akhirnya saya keluar dari kerjasama bisnis tersebut dan saya menjadi karyawan lagi… he..he..he.. !!!
Yupp… inilah dilemma yang sering dihadapi para karyawan yang ingin pindah kuadran menjadi pengusaha.

Saya mulai bisnis yang saya jalankan sendiri pada tahun 1994, yakni sebagai re-seller pakaian batik yang diageni oleh sepupu saya dari Solo. Bisnis ini merupakan bisnis saya yang ke 3.
Produk busana batik yang dijual bervariasi dari yang murah sampai yang exclusive.

Produk tersebut saya jual kepada rekan kerja di perusahaan konstruksi tempat saya berkarya sebagai karyawan. Saya mulai berjualan 2 bulan sebelum Hari Raya Lebaran, sehingga dagangan laris manis cepat habis, apalagi sistem pembayaran dapat diangsur dua kali.

Sayangnya bisnis yang cukup prospektif tersebut tidak saya lanjutkan karena alasan klasik, yakni sibuk dengan tugas2 sebagai karyawan dan saya sering ditugaskan perusahaan mengaudit keuangan proyek2 di luar pulau Jawa.

Sejujurnya…. saya pada waktu itu belum “tune in” di bisnis, masih terbuai dengan “comfort zone” sebagai karyawan, sehingga saya malas untuk menjalani proses dan belajar merubah mindset, yakni dari mental karyawan menjadi mental pengusaha.

Saya lebih senang menerima amplop gaji setiap akhir bulan yang cukup aduhai jumlahnya, dibandingkan dengan hasil jualan busana batik yang tidak menentu jumlahnya.
Apalagi selalu dibayangi repotnya menagih pembayaran dari kolega, yang cenderung suka molor dari jadwal yang sudah disepakati, rasanya saya seperti jadi pengemis yang selalu meminta-minta, meskipun itu adalah hak saya sebagai penjual.

Terlebih suara kasak kusuk kolega yang tidak senang dengan perjalanan karir saya yang melesat cepat dalam menduduki level managerial, hmm… sindiran2 seperti : sudah manager kok masih dagang di kantor, teganya ambil untung dari karyawan kecil, jangan2 pake fasilitas kantor buat ngurus bisnisnya, digaji buat kerja bukan untuk dagang di kantor… etc.

Telinga panas mendengar gunjingan tersebut… ujian mental yang terasa berat dan saya harus menjaga integritas sebagai Finance Manager agar tidak terjadi conflict of interest.

Faktor “repot” lainnya… apabila harus mengirim retur produk yang tidak laku terjual dan menunggu kiriman produk dari Solo yang tidak kunjung datang, padahal sudah janji kepada pembeli untuk menyerahkan pesanannya…. wuih, pedasnya kata2 complain pelanggan.

Beberapa faktor pressure tersebut di atas telah membuat saya mengambil keputusan tegas : bisnis tersebut saya tutup, agar saya dapat fokus sebagai karyawan.

Tahun 1996 memulai bisnis ke 4, yakni mencoba menjadi investor di sebuah pabrik pengolahan kayu di Padalarang (Jawa Barat), kolaborasi dengan kolega, yakni para manager fungsional ditambah Koperasi Karyawan di perusahaan konstruksi tersebut.
Investasi ini merupakan take over kepemilikan perusahaan pengolahan kayu yang sedang kolaps karena gagal bayar kredit investasi di salah satu bank plat merah di Jakarta.

Saya terlalu mudah percaya dengan proposal yang nota bene diajukan oleh kolega sendiri, dan saya merasa sungkan untuk mengkaji kelayakan bisnisnya.
Saya melakukan kesalahan fatal, yakni hanya percaya begitu saja dan saya tidak membuat kajian yang diperlukan apabila ingin investasi sebagai pemegang saham.

Semua ini saya lakukan karena saya “merasa punya duit”, jadi dari pada disimpan di Bank lebih baik diinvestasikan di bisnis.
Dan yang membuat fatal… saya punya asumsi bahwa kalaupun terjadi kerugian, saya masih aman dan tetap menerima gaji dari perusahaan tempat saya berkarya.
Inilah tipikal mindset yang karyawan banget, mindset yang selalu merujuk pada sisi aman sebagai karyawan.

Apabila sekumpulan karyawan berbisnis bersama dan nyaris semuanya berpengalaman NOL dalam berbisnis, maka hasil bisnis yang didapatkan nyaris NOL juga.
Perusahaan dikelola rekan2 saya by “remote control” dari Jakarta, sementara pabrik berlokasi di Padalarang.
Dapat dipastikan management amburadul, apalagi setelah take over langsung menangani export kayu ke Hongkong.

Ups… perusahaan dengan management baru yang belum berpengalaman, langsung menangani order export yang rumit bin kompleks.

Dan tidaklah heran apabila pada akhirnya bisnis kayu langsung kolaps karena faktor2 di bawah ini :
1. Pembelian bahan baku kayu kemahalan, pembelian yang asal tubruk dan dapat barang, karena dikejar tenggat waktu export.
2. Produksi kayu mengabaikan Quality Control, akibatnya banyak produk yang di-reject oleh Buyer di Hongkong.
3. Terkena claim dari Buyer Hongkong karena terlambat pengirimannya.
4. Biaya produksi menjadi tinggi karena sebagian order diberikan kepada pabrik kayu lain, yakni dengan tujuan agar proses export bisa on time (pada kenyataannya… tetap saja skejul exportnya terlambat).

Suatu pembelajaran bisnis yang bagus, meskipun menyebabkan perusahaan langsung kolaps, karena menanggung kerugian yang besar.
Inti sarinya adalah, apabila masih dalam skala belajar bisnis, mestinya belajar dari skala kecil dulu, sehingga risiko bisnis yang mungkin terjadi dapat terukur, dikenali dan mampu menanggulanginya.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

16 thoughts on “Dari karyawan menjadi pengusaha (1).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s