Dari karyawan menjadi pengusaha (3).

cartoon_31.gif

Pada bulan November 1999 saya juga memulai bisnis ke 7 di Klaten, Jawa Tengah. Inilah cikal bakal bisnis yang kelak menjadi “flag carrier”, saya mulai mengenalkan brand BETIGA… wahana aktivitas profesi saya sebagai pengusaha !!!

Bidang usaha yang pertama kali dikelola Betiga adalah jual beli sapi potong dan bisnis diawali dengan skala kecil dahulu, bahkan belum punya kandang sapi sendiri, jadi sapi masih dititipkan di kandang milik famili.

Wow… ada yang lebih heboh, Modal berupa uang yang saya keluarkan pertama kali adalah Rp 900.000,-
Yuupp betul… Sembilan Ratus Ribu Rupiah saja.
Jumlah tersebut dipakai untuk biaya pasang 1 line “nomor cantik” PSTN (telephone dari Telkom) sebesar Rp 400.000,- dan Rp 500.000,- digunakan sebagai panjar pembelian 1 ekor sapi potong yang berharga Rp 3.500.000,-

Seminggu kemudian, pada saat saya akan melunasi pembelian sapi, cihuy… famili yang mengurus sapi memberi informasi, bahwa sapi yang akan saya lunasi tersebut malahan sudah laku terjual sebesar Rp 4.150.000,-
So… saya yang seharusnya melunasi kekurangan pembayaran sapi sebesar Rp 3.000.000,-, eh… saya malah menerima transfer uang sebesar Rp 4.150.000,- dari hasil penjualan sapi.

Alhamdulillah…. dapat keuntungan Rp 650.000,- (dihitung dengan kaidah Akuntansi) dari penjualan perdana bisnis sapi.
Namun apabila dilihat dari Arus Kas, hmm beda banget… di mana ada Arus Kas Masuk sebesar Rp 4.150.000,-, sementara Arus Kas Keluar hanya sebesar Rp 900.000,- (uang panjar sapi + pasang telpon), sehingga terjadi Arus Kas Positif sebesar Rp 3.250.000,-

Saya selalu tersenyum apabila teringat transaksi perdana ini… saya “serasa” pengusaha kelas kakap… ha…ha…ha… karena saya hanya melakukan :
1. Via telpon (posisi saya di Jakarta, famili saya di Klaten), yakni dari informasi tentang adanya penawaran sapi yang dijual di bawah harga pasar, pengambilan keputusan agar sapi dibeli, sampai pada keputusan sapi setuju dijual.
2. Via ATM, yakni pada saat transfer untuk pembayaran uang panjar sapi + biaya pasang telpon, serta pada saat menerima hasil penjualan sapi.

Seiring berjalannya waktu, bisnis sapi potong mulai tumbuh kembang dan pada titik ini saya mulai membuat “blunder” akibat mindset karyawan masih kental banget.

Saya TIDAK SABAR… saya ingin SHORT CUT… saya tidak mau mengikuti PROSES… saya ingin serba INSTANT…
Saya mestinya mengasah mindset pengusaha… saya seharusnya detoksifikasi mindset karyawan yang sudah puluhan tahun mengendap di sekujur jiwa… saya mestinya meninggalkan “comfort zone” karyawan…

Dan saya malah nekad mengambil keputusan untuk mulai merambah ke bisnis sapi perah… bisnis padat modal dan memerlukan keahlian khusus dalam merawat hewan.
Alasan utama saya pada waktu itu adalah penjualan sapi potong tidak dilakukan setiap hari, melainkan sebulan paling banyak dua kali transaksi.
Sedangkan penjualan pada bisnis sapi perah terjadi setiap hari, yakni dari susu sapi yang diperah setiap pagi dan sore.

Well… perjalanan babak belur dimulai, yakni sebagian besar hasil susu sapi dijual kepada pabrik susu bubuk ternama via KUD dengan harga jual “minim” yang sudah dipatok dari pabrik susu tersebut.

Derita makin bertambah karena pembayaran dari KUD dilakukan dua minggu sekali, sehingga membuat arus kas menjadi kembang kempis untuk menutup biaya pakan sapi dan upah langsung tenaga kerja.

Sedangkan sebagian kecil susu perah dijual bebas dengan harga jual yang “lumayan” kepada pelanggan2 Rumah Tangga sebagai pemakai langsung.
Hasil penjualan susu kepada pelanggan Rumah Tangga cukup membantu arus kas harian untuk menopang biaya pakan sapi yang lumayan besar.

Denyut bisnis yang “berkesinambungan” mulai saya rasakan, meskipun saya masih berstatus sebagai karyawan.
Saya sangat “menikmati dunia amphibi” saya, yakni seorang karyawan yang merangkap sebagai pengusaha.

Melihat prospek bisnis sapi yang “menggiurkan” tersebut, saya mulai serius menyiapkan rencana resign sebagai karyawan. Apalagi pada waktu itu, tahun 2000, buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki sedang “booming” di Jakarta, yang  membuat saya semakin termotivasi untuk pindah kuadran.

Pada waktu itu saya memakai “topeng”, meskipun saya tahu bisnis sapi perah mengalami “bleeding” arus kas, namun saya pura2 tidak merasakannya.
Saya gengsi mengakui kegagalan bisnis lagi di hadapan keluarga dan teman2…. saya tetap mempertahankan bisnis sapi perah tersebut, walaupun setiap bulan harus menambal arus kas yang compang camping !!!

Dan kemudian tibalah saatnya saya jatuh terhempas ke jurang yang paling dalam…. yang akan saya sharingkan dalam artikel “Dari karyawan menjadi pengusaha bagian ke 4”.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

38 thoughts on “Dari karyawan menjadi pengusaha (3).”

  1. yasir :
    Alhamdulillah saya mulai mengurusi Sapi Perah milik pondok yang dalam kondisi difisit 1,5 juta, tapi setelah 6 bulan keuntunganya sudah mencapai 4 juta perbulan. Mudah2an bulan2 depan lebih bagus lagi. Amin

  2. Tolong bapak pemerintah dengarkan keluhan ini
    saya seorang petani peternak sapi sejak tahun 2007 selama 1 tahun ini ternyata harga sapi di pasaran menurun drastis sehingga banyak saudara2 kami para peternak di wilayah cilacap barat mengeluh banyak mengalami kerugian. Hal ini disebabkan pada saat pembelian sapi untuk dikembang biakan maupun digemukan harga cukup tinggi pada saat sudah gemuk atau populasi bertambah [sasat memetik hasilnya)harga anjlok. sesuai berita dimedia konon pemerintah mau swasembada daging, apabila memang benar mestinya impor sapi potong dibatasi/diatur sehingga tidak membuat anjlok harga sapi di pasaran kita. kami membaca di internet katanya pemerintah mencanangkan swasembada daging sapi dan diakui bahwa kridit KUR atau sejenisnya untuk para peternak memang berjalan itulah yang membuat para peternak semangat dan populasinya sangat pesat sangat. Namun dibalik itu apabila kondisi impor juga pesat maka peternak kita akan banyak terjerat hutang/kridit dari pemerintah walaupun sifatnya kridit lunak. Untuk itu coba Pemerintah lewat Dinas/Instansi terkait sering turun ke bawah ke petani sehingga tau situasi dan kondisi yang ada dan ada niat untuk memakmurkan rakyat petani.

  3. Mas Bams,cerita kehidupian anda sangat menarik.sya ingin mengikuti
    jejak anda terutama di bisnis aqua.gm caranya mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s