Antara Jogya dan Saudi Arabia.

cartoons_179.gif
Kisah ini khusus saya persembahkan buat sedulur sinorowedi… adimas Hadi “Suryo” Kuntoro, yang telah menginspirasi saya (lewat tulisan2 dahsyat di blognya) untuk bergabung di komunitas TDA yang fuuntastics.
Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi TDA’ers Jomblo…. hehehehe…
Here I was :
Perjuangan diawali pada bulan Desember 1983, saat saya berkenalan dengan seorang gadis Klaten yang masih duduk di bangku SMA (padahal diriku sudah 7 tahun di kuadran karyawan yang “agak nyaman” di Jakarta).
Perkenalan memakai jasa broker alias mak comblang dan sahabat karibku, maklumlah… saya dan dia berbeda usia 9 tahun.
Jujur saja… saya belum jatuh cinta pada pandangan pertama, karena sisa2 broken heart 3 tahun sebelumnya masih melekat erat di dalam jiwa saya.
Saya mulai galau dan serius memikirkan dia ketika saya mendapat tugas ke Saudi Arabia.
Saya resah memikirkan usia yang sudah 28 tahun dan masih jomblo, padahal saya sudah ngebet dengan lembaga perkawinan.
Di samping itu… doi juga punya fans yang gagah dan otomatis menjadi kompetitorku… hehehe…
Awal Februari 1984, sebelum berangkat ke Saudi Arabia, saya nekad memohon doi agar kelak bersedia menjadi pendamping hidupku.
Hasilnya…. ??? Dia tidak menjawab secara spesifik permohonan saya tersebut (atau malah menolak ya ??), karena dia beralasan masih ingin konsentrasi pada kuliahnya di IKIP Negeri Jogya.
Hwarakadah… langsung kepala terasa nyuut… nyuut… karena maksud hati ingin tenang selama menjalankan tugas di Arab Saudi, apa daya malah terima jawaban yang mengambang dari doi… inilah tantangan buat diriku yang memBAHARA… hahahaha…!!
Well… 14 Februari 1984 saya berangkat ke Saudi Arabia dengan hati yang campur aduk… antara gembira karena mendapat kesempatan berkarya di Luar Negeri dan… rasa khawatir kalau kehilangan dia… karena kalah bersaing dengan kompetitor (lokasinya lebih dekat dengan doi).
Hari-hari terasa panjang di Saudi Arabia… belum ada laptop untuk chatting… apalagi HP untuk kirim SMS… akhirnya hanya surat-surat via pos sebagai penyalur rasa kangen (padahal belum jadian lho… !!)
Dari jalur surat-surat Saudi Arabia – Jogya – Saudi Arabia itulah saya mulai mengenal pribadi dan karakter dia, sekaligus sebagai media provokasi dan ngegombal saya… hahahaha… !!
Setelah 6 bulan bertugas di Saudi Arabia, tibalah hari cuti yang di-nanti2… tepat tgl 15 Agustus 1984 saya tiba di Jakarta… dan tgl 17 Agustus 1984 tiba di Klaten.
Beruntung dia sedang libur Hari Kemerdekaan RI… dan tepat pada hari tersebut saya proklamirkan cinta saya… saya sudah bertekad untuk menjadikan dia sebagai pendamping hidup saya selamanya…. dan horee… ternyata dia bersedia menerima cinta saya.
Awal September 1984 saya harus kembali ke Saudi Arabia… namun hati yang sedang jatuh cinta tidak bisa diajak kompromi… pergulatan batin yang harus memilih : antara Saudi atau (calon) Istri —> jadi inget ultimatum bunda Aning kepada Koko Prabu : Astra atau Istri… sekikiki… !!!
Ternyata saya memilih : (calon) Istri dan rela resign melepaskan karir yang bergaji USD 3,500 ++ (hiks.. hiks.. pupus deh… impian beli mobil)
Tepat pada ultah saya ke 28, tanggal 23 Desember 1984, saya bertunangan dengan dia… dan dia itu bernama : Tatik.
Perjuangan belum berakhir, karena lokasi kami berjauhan… saya di Jakarta dan Tatik di Klaten & kuliah di Jogya.
Setiap 2 minggu sekali saya jadi setrikaan… Jakarta – Klaten – Jakarta… Sabtu malam berangkat mudik, Minggu pagi tiba di Klaten dan Minggu sore sudah berangkat kembali lagi ke Jakarta, yah.. praktis hanya sekitar 8 jam saja saya berada di Klaten.
Medio April 1984 sampai akhir Mei 1984 (calon) istri sakit dan harus opname di RS Solo selama 40 hari… dan selama itu pula saya selalu menjaga di samping tempat tidurnya.
Berhubung selama 40 hari tidak masuk kerja, ya… otomatis saya resign dari perusahaan lagi (rekor nih… selama 8 bulan sudah resign dari 2 perusahaan yang berbeda… hehehe..).
Singkat cerita… setelah sembuh dari sakit langsung membuat planning pernikahan.. dan tepat tanggal 8 September 1985 kami melangsungkan pernikahan di Klaten.
Adalah perjuangan dalam menggapai cinta… rela melepaskan karir di dua perusahaan berbeda, agar dapat meraih cinta yang didamba.
Kalau ingat peristiwa itu saya sering merinding sendiri… betapa saya nekad banget, karena pada saat melangsungkan pernikahan… saya sudah 4 (empat) bulan JOBLESS alias pengangguran… dan two thumbs up buat istriku Tatik… yang tetap mencintaiku meskipun jobless… bravo honey !!
Kami dianugerahi Allah 4 putri cantik dan cerdas : Betta (kuliah semester 8 di Binus Jakarta), Britta (SMU kelas 1 di Jogya), Bella (SMP kelas 2 di Jogya) dan Bista (SD kelas 2 di Jogya).
Tahun 2008 ini merupakan tahun ke 23 usia perkawinan kami, semoga kami senantiasa menjunjung tinggi… CINTA.. !!!

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

6 thoughts on “Antara Jogya dan Saudi Arabia.”

  1. Selamat ultah perkawinan yang ke 23 tahun ya pak…
    Perjuangan cintanya begitu besar dan salut untuk berdua tetap berani menentukan pilihan yang ternyata membuahkan kebahagiaan.

    Semoga kebahagiaannya selalu abadi.

  2. Selamat pak Bams
    Hidup memang sebuah pilihan
    dan Mas Bams sudah bisa membuktikan bahwa kita yang harus memilih dan mengatur nasib yang kita akan lalui

    Semoga Kekal dan selalu bahagia
    lebih dekat dengan yang diatas

    Riyanto
    BKK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s