Ketika harus memilih.

Sesungguhnya hidup adalah sebuah pilihan, yakni beragam pilihan hati, agar selaras dengan visi dan misi kehidupan pribadi.

Seperti yang saya alami dalam beberapa hari terakhir ini, ketika saya harus memilih keputusan pahit yang tidak saya senangi tetapi harus dilakukan.

Berawal dari permohonan berhenti dua orang karyawan (sepasang suami istri) yang sudah 6 tahun berkarya membantu kerepotan di rumah.

Mereka sudah saya anggap seperti anak sendiri dan saya didik agar dapat hidup mandiri, antara lain dengan memberi spirit entrepreneurship.

Dan sudah 3 tahun terakhir saya berikan amanah untuk mengelola bisnis distribusi Aqua Danone dan LPG Pertamina di wilayah seputaran rumah tinggal, yang hasilnya lumayan buat menambah tabungan mereka.

Mulut serasa ingin mengumpat dan mengomel mendengar permohonan tersebut, karena kami sekeluarga sudah memberikan yang terbaik kepada mereka, baik moril maupun materiil.

Beruntung perasaan kurang nyaman tersebut hanya sesaat singgah di hati, diganti dengan perasaan syukur dan toleransi.

Saya sepenuhnya menyadari bahwa merekapun mempunyai pilihan dalam melakoni kehidupan, meskipun saya sempat meragukan pilihan hidup yang akan mereka jalani.

Yupp… saya harus legowo dan menyingkirkan bentuk ideal kehidupan yang ada di benak dan ego saya, jadi saya harus menghormati pilihan hidup mereka, karena toh mereka sendiri yang akan menjalaninya.

Akhirnya kami sekeluarga mengikhlaskan kepergian mereka, karena mereka telah yakin dengan pilihan hidup mereka sendiri, yakni akan bertani dan bermukim kembali di kampungnya.

Masih ada dua orang famili mereka yang juga bekerja di rumah tangga kami, yang ternyata juga ikut pamit resign… pulang ke kampung juga !!!

Hwarakadah… anugerah bertambah lagi, kami sekeluarga menghormati pilihan mereka dan kami ikhlas.

Hanya satu hal yang paling membuat saya terpukul, yakni ketika saya tidak dapat lagi melayani pelanggan-pelanggan setia di seputaran rumah tinggal, karena saya harus menutup bisnis distribusi yang dikelola karyawan yang resign tersebut.

Tidak mudah mencari karyawan pengganti, karena diperlukan SDM yang memiliki karakter khusus agar dapat memenuhi standar kualitas pelayanan yang telah ditetapkan.

Saya bersyukur atas anugerah dari Allah ini, dan saat ini kami sekeluarga semakin solid dalam menangani kerepotan rumah tangga, sehingga anak-anak dapat belajar hidup mandiri dan saling menguatkan.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

3 thoughts on “Ketika harus memilih.”

  1. sabar saja Pak,

    Dulu ketika saya masih ikut orang tua dan membantu usahanya,
    ketika ada kejadian seperti itu rasanya juga tidak enak.
    thanks sharingnya Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s