Falsafah 5 Fingers dan DNA Entrepreneur .

Minggu lalu menghadiri saresehan dan sharing dengan beberapa sedulur TDA Joglo  yang tengah silaturahim di Soka Residence, Jakarta Utara.

Acara sarasehan yang sarat pencerahan tersebut digawangi dengan ciamik oleh mas Harmanto, antara lain membahas tentang fenomena dunia wirausaha.

Berikut ringkasan dan intisari sarasehan tersebut :

Trend yang terjadi disetiap negara atau etnis selalu berubah, tentunya trend yang diambil sebagai acuan juga trend yang berlaku setempat.

Saat ini kalau kita amati dikota kecil Jawa, tampak trend yang menarik, etnis China terkenal dengan jiwa dagangnya, tetapi generasi berikutnya mulai meninggalkan dunia tersebut dan masuk ke dunia “kerja”  (baca : karyawan, red) di kota besar.

Ini terlihat banyak sekali anak-anak mereka yang enggan meneruskan usaha mereka di pedesaan / kota kecil dan memilih glamour kota besar dengan kehidupan yang mereka rasa lebih baik, ditunjang lagi karena pendidikan mereka kebanyakan di luar negeri.

Perhatikan saja, yang tinggal di kota kecil kebanyakan generasi tua atau yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya keluar negeri.

Nah di sisi lain, kecenderungan penduduk lokal yang tadinya bertani, saat ini mengalami arus balik.

Dulu, orang tua kita selalu berharap anaknya menjadi “Pegawai Negeri” (sekarang juga masih…), karena pola
feodalisme dan kebanggaan semu, serta mengharapkan hidup tenang saat pensiun.
Pada saat ini pemikiran tersebut sudah mulai berubah.

Positif nya sekarang banyak penduduk lokal mengambil alih kunci perdagangan di daerah, ini suatu perubahan DNA secara alamiah, karena ada celah kosong yang bisa mereka isi serta lebih terbukanya kesempatan untuk melakukan itu.

Mereka sudah mulai keluar dari “kepompong” yang membelenggu menjadi “kupu-kupu” usaha yang indah.
Menjadi seorang “Entrepreneur” bukan berarti kita harus usaha sendiri, tetapi juga bisa dilakukan saat kita bekerja sebagai karyawan [ini pengalaman pribadi].

Saat kita diberi kebebasan berkreasi dan berkembang, disitulah jiwa entrepreneur kita diuji, sampai tiba suatu saat kita bisa menjadi diri sendiri.

Banyak contoh orang yang berhasil melalui pola ini, kembali lagi bagaimana kita sebagai pribadi mau berkembang atau tidak.

Kalahkan “diri sendiri” dan kalahkan “ketakutan gagal”

Ada rumusan 5F (Fingers, jari tangan) yang selalu saya pegang, untuk memudahkan memilih sesuatu usaha bisnis, yakni :

1. Apapun bentuknya kita harus merasa senang dulu dalam melakukannya (FUN, jari kelingking)
2. Kita harus cocok dengan suasananya (FEELING, jari manis)
3. Kita harus menjunjung tinggi kejujuran/trust (FAITH, jari tengah)
4. Kalau itu dikerjakan dengan baik maka masa depan pasti terbuka (FUTURE, jari telunjuk)
5. Dan hidup kita mudah-mudahan lebih baik lagi (FINANCIAL, ibu jari)

Rumusan ini jangan dibolak-balik, misalnya FINANCE duluan dan mengabaikan FAITH, nanti kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya, jadi harus secara berurutan.

Semoga menginspirasi para pembaca blog yang budiman.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

7 thoughts on “Falsafah 5 Fingers dan DNA Entrepreneur .”

  1. @Ibu Siti Pudji Rahayu,
    Matur nuwun rawuhipun.
    Sungguh mulia keputusan Ibu mengajak berbisnis anak yatim.
    Doa kami sekeluarga untuk kesuksesan Ibu.
    Salam dari Jogya.

  2. saya benar benar salut dengan kerukunan kalian sehingga maju pesat dalam bisnis yang kalian geluti .Saya benarbenar hal baru tentang bisnis ini ,maka saya inginnya sih mulai mengajak anak anak yatim di dekat rumah saya untuk memulai mereka bisnis walaupun dimulai dengan jari kelingking.Mereka antara 7th-14 tahun ,saya mulai dengan membuat batas buku,gantungan kunci dari flanel doain ya agar dapat memotivasi mereka mandiri .Kalau ada trik jitu kasih tahu saya ya .trimakasih.

  3. @bro Fuad Muftie,
    Baru inget kalau bro FM juga pernah memuat artikel Falsafah 5 jari di blog.
    Kapan pulang kampung ‘tuk menjadi taipan ? he..he..he..
    Thanks dan salam hangat dari Jogya.

  4. Thank’s sharingnya Pak Bamb’s, mak nyuss patut diresapi dan diamalkan falsafahnya.

    Bener juga, jadi ingat desa di Wsb, warga keturunan yg dulu punya usaha sekarang mulai uzur. Sementara anaknya pada mengadu nasib di kota besar. Peluang pulang kampung nich…. he.. he… he…

    Wassalam
    Fuad Muftie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s