Antara ‘proses’ dan ‘comfort zone’ wirausaha.

Saya mencanangkan bulan Januari 2008 sebagai titik awal pengembangan bisnis baru, sekaligus sebagai wujud aktualisasi falsafah “memberi dan melayani”.

Terhitung 1 Januari 2008, perusahaan Betiga Klaten dikelola oleh salah satu karyawan yang mempunyai standar integritas tertinggi dan berpengalaman di bidang marketing, operasional dan finansial.

Pendampingan operasional perusahaan sehari-hari dilakukan oleh isteri tercinta, sedangkan tugas saya (di belakang layar) hanya berperan sebagai penentu kebijakan penting perusahaan.

Terjadi pergolakan batin yang seru pada saat serah terima wewenang pengendalian perusahaan kepada karyawan, perang batin antara sifat manusia yang serakah dengan sifat memberi (berbagi) yang ikhlas.

Pergolakan yang dipicu rasa khawatir kemampuan karyawan dalam mengelola perusahaan, rasa takut kalau dicurangi karyawan, rasa khawatir apabila bisnis yang telah dikelola selama 6 tahun mengalami kegagalan.

Di sisi lain, hati yang paling dalam menghendaki aktualisasi spirit berbagi yang kongkrit, yang bermanfaat langsung bagi orang lain.

Kegalauan hati yang saya rasakan justru disalurkan dengan cara :

1. Lebih banyak bersilaturahim dan membangun networking dengan sedulur-sedulur komunitas TDA JogloTDA Jakarta, TDA Semarang, TDA Bandung dan TDA Ngalam (Malang).

2. Mengosongkan pikiran dan membuka hati agar mampu menerima hal-hal baru dalam hidup saya, terlebih di bidang teknologi informatika.

3. Membangun pondasi bisnis baru hasil kolaborasi dengan sedulur-sedulur komunitas (tentu saja di luar  bisnis utama masing-masing).

4. Selalu bergerak mencari peluang bisnis yang layak dijalankan dan selalu berlandaskan pada falsafah 5F (Fun, Feeling, Faith, Future dan Finance).

Proses yang sudah dijalani selama 7 (tujuh) bulan ini tidak nyaman di hati, yakni terasa jalan di tempat, monoton,  membosankan, tidak ada kepastian dan belum menghasilkan arus kas positif.

Pada titik inilah saya mengalami ujian yang sesungguhnya, titik kritis ketika saya harus memilih antara mengembangkan bisnis baru yang belum pasti atau mengelola kembali bisnis lama yang sudah mapan.

Saya memilih menikmati proses mengembangkan bisnis baru yang berliku dari pada menikmati comfort zone di bisnis lama yang mapan.

Karena saya yakin sekali, bahwa bisnis-bisnis baru tersebut merupakan wahana dalam menggapai “my dreams” pada tahun 2010.

Kunci semua itu adalah : bersyukur, ikhlas, sabar, ulet, tekun dan tabah. Semoga menginspirasi.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Antara ‘proses’ dan ‘comfort zone’ wirausaha.”

  1. Luar Biasa sharingnya Pak. Ternyata apa yang saya alami juga masih dialami member senior TDA sekualitas Bapak. “Bisnis terasa jalan di tempat, monoton dan belum menghasilkan arus positif..” Beruntunglah Bapak punya sahabat dan komunitas yang hebat, yg bisa diajak berbagi, saling support dalam suka maupun duka…! Sukses selalu Pak Bams dan Mitra Bahara lainnya.

    Rgds
    Didi
    http://visimandiri.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s