Hambatan ketika memulai bisnis.

Menjawab pertanyaan mayoritas sahabat yang ingin memulai bisnis distribusi Aqua Danone dan LPG Pertamina, berikut sharing pengalaman pribadi ketika memulai bisnis distribusi, khususnya hambatan-hambatan yang dialami.

Sharing ini ditujukan kepada sahabat yang berlatar belakang atau berprofesi sebagai karyawan dan ingin pindah kuadran menjadi wirausaha.

Memulai bisnis distribusi dapat dikatakan susah susah gampang, kuncinya terletak pada keberanian diri sendiri untuk memulai bisnis tersebut.
Persiapan dan perhitungan kelayakan bisnis relatif penting dan perlu diwujudkan dalam bentuk ringkasan yang mudah dipahami dan tidak “njlimet”.

Setelah dibuat ringkasan rencana bisnis sederhana, segera bulatkan niat dan tekad untuk “action” (bertindak) memulai bisnis.
Apabila tidak segera action, atau merasa takut dan ragu-ragu, atau terlalu “njlimet” dalam berhitung untung rugi, hmm… profesi wirausaha hanya akan berupa wacana dan impian saja.

Dengan action akan diketahui hambatan apa saja yang dialami dan segera dicarikan solusinya, inilah dinamika atau “proses” menuju impian sebagai wirausaha sejati.

Ketakutan atau keraguan memulai bisnis pada umumnya disebabkan :

1. Mindset sebagai karyawan yang selalu “aman” dan “pasti”, diaktualisasikan dengan penerimaan gaji yang teratur setiap bulan.

Gaji atau imbal jasa merupakan suatu hal yang membuat aman dan nyaman di hati, karena dapat dipakai untuk menopang biaya hidup selama sebulan, dan bahkan dapat disisihkan sebagian untuk tabungan di hari tua, biaya pendidikan anak, cadangan untuk pembelian rumah tinggal, etc.. etc..

Kondisi ini membuat kehidupan aman dan nyaman, meskipun terkadang menggerutu karena gaji belum “disesuaikan”, serta sering mengeluh karena waktu dan tenaganya habis untuk keperluan kantor tempat berkarya… hehehehe…

Kondisi”comfort and safe” tersebut di atas menyebabkan turunnya daya juang untuk memulai bisnis, suatu profesi yang bertolak belakang dengan profesi karyawan, serta penuh tantangan dan pantang putus asa.

2. Sering membayangkan, dan kemudian timbul rasa takut atau cemas, apabila kelak sebagai wirausaha (terlebih ketika memulai bisnis) penghasilannya “tidak pasti”, sehingga kuatir tidak dapat mencukupi biaya hidup.

Memang, sebagai wirausaha kemungkinan atau malahan akan mengalami “kerugian” akibat : mis-management, belum terampil mengelola bisnis, dicurangi karyawan, atau bahkan ditipu mitra bisnis.

3. Mempunyai asumsi, bahwa bisnis identik dengan modal berupa uang, sehingga apabila uang tersedia, bisnis akan berjalan dengan lancar.
Ibarat menuangkan coffeemix instant dari sachet ke dalam cangkir, terus diberi air panas dan langsung bisa diseruput… maknyuss dan uenakk tenan.

Sesungguhnya bisnis merupakan karya seni dari seorang wirausaha, perpaduan yang harmonis antara jiwa kewirausahaan, ketrampilan mengelola bisnis serta sinergi semua sumber daya yang mendukung eksistensi perusahaan.

4. Menyiapkan mental istri (suami) dan anak-anak agar tidak terkejut dengan perubahan gaya hidup, dari yang sebelumnya aman dan tenteram, berubah menjadi tidak pasti dan berjuang lagi untuk menggapai impian kebebasan jiwa dan finansial.

Dukungan dari istri (suami) dan anak-anak pada saat memulai bisnis dan ketika mengalami “proses” menuju wirausaha, sungguh tak ternilai harganya, karena mereka akan menjadi motivator paling hebat sedunia.

Last but not least… setiap pengorbanan dan perjuangan yang dijalani, hasilnya pasti akan sepadan dengan impian yang diidamkan.
Selamat memulai bisnis dan sukses untuk semua sahabat… !!

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

6 thoughts on “Hambatan ketika memulai bisnis.”

  1. pak maaf sebelumnya tapi saya juga mempunyai sebuah kendala yg cukup rumit yaitu masalah restu orang tua
    sebenarnya saya juga ingin untuk memulai bisnis tetapi mindset orang tua saya yg menghambat karena mereka berpikiran kalau ingin sukses jadilah pegawai
    mohon bantuannya bagaimana cara merubah mindset orang tua saya agar saya bisa meyakinkan mereka kalau saya benar” ingin memulai bisnis..
    terima kasih

    1. Mahindra:
      Solusi paling jitu untuk meyakinkan orang tua adalah dengan bukti nyata, bahwa dng berbisnis anda bisa sukses.
      Tahap awal, jadilah karyawan agar anda dapat restu orang tua.
      Pada saat yg sama, anda mulai punya usaha, yg tidak begitu menganggu tugas anda sebagai karyawan, misalnya membuat “Toko Online”.
      Seiring berjalannya waktu, dan anda mengelola toko online secara tekun dan serius, insya Allah jumlah penghasilan dari toko online bisa signifikan.
      Manfaat produk yg anda jual via toko online bagi masyarakat, penghasilan signifikan dari toko online, serta jaringan bisnis yg anda miliki merupakan “bukti nyata” kepada orang tua.
      Pada akhirnya, anda bisa resign dari karyawan, dan anda bisa totalitas mengurus bisnis.
      Salam wirausaha Indonesia.

  2. Pak Bambang…terakhir sy main kermh dijogja sy selalu ingat kata2 Pak Bambang”nanto…kalau kamu jd petani kamu ngga akan cepat kaya,jadilah pedagang” kata2 ini yg memotivasi n jd tantangan buat sy untuk maju n pantang menyerah,usaha yg sy lakukan sekarang bertani sekaligus berdagang.jualmangga.com menjadi titik awal sy berdagang dr hasil pertanian yg sy kelola.maturnuwun…

  3. salam kenal dan sukses bahagia pak Bambang…

    terima kasih loh motivasinya, memang yang seperti ini harus ditanamkan sejak dini kepada orang-orang terdekat kita.
    Mungkin cara seperti ini dapat mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia secara perlahan.

    salam berkunjung balik pak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s