Delapan tahun silam… !!

Jam antik di Stasiun Tugu, Jogjakarta
Jam antik di Stasiun Tugu, Jogjakarta

Setiap bulan April tiba, saya selalu teringat salah satu keputusan penting dalam kehidupan, yakni pada saat menerima 1 set berkas Surat Keputusan Direksi Tentang Pemberhentian Dengan Hormat Atas Permintaan Sendiri Sebagai Karyawan tertanggal 25 April 2002.

Saya menunggu SK tersebut cukup lama, karena surat “resign” sudah disampaikan di bulan November 2001, namun persetujuan dari Direksi baru diterbitkan 5 bulan kemudian, itupun masih diberi catatan agar bersedia mengikat kontrak sebagai Konsultan selama 6 bulan untuk menyelesaikan penugasan khusus finalisasi proyek-proyek yang sudah selesai.

Ups… tanpa terasa saya sudah 8 tahun meninggalkan “comfort zone” karyawan… dan otomatis pikiran melayang 8 tahun silam… ketika mulai memasuki “wild jungle zone” profesi wirausaha.

Masih tergambar jelas, betapa emosi saya campur aduk pada waktu itu, antara lain :

1. Rasa lega menjadi manusia yang terbebas dari rutinitas tugas dan tanggung jawab sebagai karyawan.

2. Rasa galau memikirkan operasional sehari-hari perusahaan yang terasa jalan di tempat.

3. Rasa gembira dapat berkumpul dengan keluarga sepanjang hari, walaupun hanya dengan isteri dan anak bungsu.

4. Rasa kecewa karena tiga dari empat anak sudah tumbuh menjadi remaja dan asyik dengan dunianya sendiri, sehingga kurang peduli dengan kehadiran saya di rumah, malahan salah satu anak pernah bilang “papa koq nggak kerja di kantor seperti dahulu lagi”… hiks.. !!!.

5. Rasa puas dapat membaca buku-buku favorit yang belum sempat terbaca dan belajar praktek beberapa software komputer agar tidak terlalu gaptek (gagap teknologi).

6. Rasa khawatir tentang laju tumbuh perusahaan yang baru didirikan (setelah menutup perusahaan sebelumnya yang mis-management) dan dikelola sendiri bersama isteri.

7. Rasa takut akan masa depan yang tidak pasti dan khawatir tidak dapat membahagiakan keluarga.

8. Dan segudang emosi lainnya yang datang silih berganti.

“Proses” yang harus dijalani ternyata mengharu biru emosi, meskipun saya sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak tahun 1997, lima tahun sebelum pindah kuadran menjadi wirausaha.

Persiapan dan “action plan” yang sudah disusun rapi (menurut persepsi saya sebagai karyawan) nyaris tidak terpakai, dihajar habis dengan realitas dunia bisnis yang memang “berbeda” dengan dunia karyawan, bahkan cenderung bertolak belakang.

Pada titik inilah muncul rasa tidak nyaman di hati, lalu (karena kepepet) timbul fighting spirit agar dapat bertahan hidup, sehingga tanpa terasa malah mengasah jiwa dan semangat wirausaha.

Benang merahnya adalah, pada saat kondisi terpuruk agar segera bangkit dan mendobrak “blocking mental” yang cenderung meratapi nasib kurang mujur.

Hal-hal yang membuat terpuruk (weakness) dievaluasi dan dijadikan cermin, lalu dirancang menjadi kekuatan (strength) dalam planning pengelolaan bisnis berikutnya, agar tercipta bisnis dengan pondasi yang kokoh dan sehat.

Kabar baiknya, pengalaman kerja selama menjalani profesi karyawan ikut menunjang ketrampilan dalam mengelola perusahaan, terlebih di dalam pembentukan organisasi perusahaan, sistem management dan pengelolaan SDM.

Ternyata hal paling fundamental dalam proses pindah kuadran adalah…. “ MERUBAH MINDSET ”.

Semoga menginspirasi para sahabat yang ingin pindah kuadran menjadi wirausaha.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

6 thoughts on “Delapan tahun silam… !!”

  1. Saya acungin jempol buat Pak Bambang klo perlu 10 jempol atas keberhasilan bapak keluar dari zona karyawan ke wirausaha atau pengusaha. Banyak orang yang takut berhenti menjadi karyawan karena takut tidak bisa memberi nafkah ke keluarganya(termasuk saya kali’ hehehe),klo melihat profilnya pekerjaannya sudah sangat mapan. Tapi Salut buat Pak Bambang sekali lagi. Tulisannya sangat inspiratif. Good Luck.
    Salam kenal dan salam hangat buat Pak Bambang Triwoko.
    Thanks

  2. Bukan main perjalanan hidup anda dalam meniti karier. Terus terang saya tergelitik untuk membaca karena slogan ” Memberi Dan Melayani ” seolah2 slogan ini dibuat oleh “Pemuka Agama” yg hidupnya hanya untuk melayani umat,ternyata dibalik slogan tersebut tertanam fighting spirit yang luar biasa. Pada akhirnya kalau boleh saya menyimpulkan ” Manusia tdk boleh hanya memikirkan untung dan untung saja tapi lebih akan bermakna bila kita berbagi dengan apa yang kita punyai “. Selamat dan sukses semoga Gusti selalu memberikan yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s