Proses meraih impian (1).

Impian hidup ibarat kereta api menuju stasiun tujuan
Impian hidup ibarat kereta api menuju stasiun tujuan

Impian dan obsesi menjadi wirausaha dimulai ketika masih remaja, ketika saya mengagumi kiprah kehidupan paman (adik kandung ibu) yang menggeluti bisnis tembakau dan pabrik so’un (sejenis bihun dengan bahan baku dari pati onggok).
Dan satu lagi figur yang saya kagumi, yakni tante (adik sepupu ayah) yang sukses menjadi juragan batik dan pedagang berlian.

Kedua beliau ini kehidupannya “sukses” dan selalu menjadi buah bibir di dalam keluarga besar, karena status ekonomi dan tingkat kemapanan yang jauh di atas saudara-saudara kandungnya.

Kepiawaian beliau dalam mengelola sekian banyak sumber daya manusia dan kehebatan menjalin networking dengan stake holders telah menginspirasi saya, dan saya ingin mengikuti jejak langkah beliau dalam melakoni kehidupan.

Sering dalam perbincangan dengan kedua beliau tersebut, saya menjadi heran (maklum masih remaja), karena mereka malah menganggap figur ayah (yang nota bene adalah seorang guru) sebagai idola dan sangat menghormatinya.
Mereka selalu mengacungi jempol atas keteladanan ayah, yang selalu mengedepankan integritas dan tanggung jawab, mempunyai “network” di segala lapisan masyarakat, serta “nrimo ing pandum” (hidup sederhana).

Kelak saya mengetahui, bahwa bisnis-bisnis paman dan tante dapat berkembang pesat karena faktor “daya ungkit” pendanaan dari bank (kredit modal kerja), dan hebatnya… yang membuat strategi serta menggawangi proses dari aplikasi permohonan kredit sampai dengan pencairan kredit adalah ayah tercinta.

Perkenalan saya dengan dunia bisnis dimulai pada tahun 1987, ketika saya menjadi karyawan di PMU (Project Management Unit) yang bergerak di bidang Agrobisnis di wilayah Jawa Tengah.

Saya dan beberapa rekan kerja mengelola bisnis, yakni menggalang kerja sama dengan kelompok tani untuk menanam jagung hibrida, yang kelak setelah panen akan diolah menjadi “silage” (proses fermentasi) sebagai pakan ternak sapi.
Di samping bisnis jagung hibrida, kami juga berbisnis pengadaan padi jenis Rojolele, kemudian dikemas dalam packing plastik @ 5kg, dan produk tersebut dijual ke Supermarket-supermarket.

Sayang sekali bisnis ke 1 yang berjalan mulus tersebut harus ditutup karena saya “resign” dari PMU, berhubung saya tidak cocok dengan gaya dan budaya top management perusahaan.

Bisnis ke 2 dijalani pada tahun 1988, yakni setelah resign dari PMU langsung bermitra dengan kawan bermain kala usia remaja.
Kali ini saya menggeluti bisnis Bengkel Las dan Jasa Penyewaan Truck.

Berhubung masih awam dalam bisnis dan kental dengan “mindset karyawan yang aman”, maka saya tidak puas dengan hasil yang diperoleh dari bisnis Bengkel Las dan Penyewaan Truck tersebut.
Dana investasi yang ditanamkan tidak sebanding dengan hasil yang diterima setiap bulannya.
Kondisi tersebut diperparah dengan perilaku mitra bisnis saya yang kurang transparan dalam pelaporan hasil usaha.

Di sisi lain keluarga terdekat selalu menasihati agar menjadi karyawan lagi, sehingga saya akan mempunyai penghasilan yang tetap lagi (baca : aman).
Akhirnya saya keluar dari kerjasama bisnis tersebut dan saya menjadi karyawan lagi… he..he..he.. !!!
Yupp… inilah dilema klasik yang sering dihadapi karyawan yang ingin pindah kuadran menjadi wirausaha.

Artikel selanjutnya sharing tentang “proses” menjalani bisnis re-seller busana batik (yang “mempertaruhkan” kredibilitas jabatan sebagai Finance Manager), serta bisnis pengolahan kayu (yang babak belur dihajar klaim “delay shipping” dari buyer Hongkong).

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

6 thoughts on “Proses meraih impian (1).”

  1. Ini dia cerita yg bisa membangkitkan gairah semangat untuk maju. Ditunggu kisah lanjutannya be..

    Babe, ones gurus best I ever had..! Salam buat mami yaa, be..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s