Proses meraih impian (2).

Pitstop - Berhenti sejenak di stasiun Bandung
Pitstop – Berhenti sejenak di stasiun Bandung

Saya merintis bisnis ke 3 pada tahun 1994, yakni sebagai re-seller busana batik yang dipasok oleh sepupu yang tinggal di Solo.
Produk busana batik yang dijual bervariasi, dari yang berharga murah sampai yang exclusive. Produk tersebut dijual kepada kolega di perusahaan tempat saya berkarya di Jakarta.
Saya mulai berjualan dua bulan sebelum Hari Raya Lebaran, sehingga dagangan laris manis dan cepat habis, apalagi sistem pembayaran dapat diangsur dua kali.

Sayangnya bisnis yang cukup prospektif tersebut tidak dilanjutkan karena alasan klasik, yakni sibuk dengan tugas dan kewajiban sebagai karyawan.
Di samping itu, saya sering ditugaskan perusahaan untuk mengaudit keuangan proyek-proyek di luar pulau Jawa, dampaknya… bisnis tidak ada yang mengurus.

Sejujurnya…. pada waktu itu saya belum “tune in” di bisnis, saya masih terbuai dengan “comfort zone” karyawan, sehingga saya malas untuk menjalani proses dan belajar merubah “mindset”, yakni mengasah mindset wirausaha.
Saya lebih senang menerima gaji yang aduhai jumlahnya setiap akhir bulan, dibandingkan dengan hasil jualan busana batik yang tidak menentu jumlahnya.

Saya selalu dibayangi repotnya menagih pembayaran dari kolega, yang cenderung suka molor dari jadwal yang sudah disepakati, rasanya saya seperti menjadi pengemis yang selalu meminta sedekah, meskipun angsuran pembayaran itu adalah hak saya sebagai penjual.

Yang membuat saya lebih tidak nyaman adalah suara kasak kusuk kolega, yang tidak senang dengan perjalanan karir saya yang melesat cepat dalam menduduki level managerial, dengan bermacam sindiran dan gunjingan seperti :

** Sudah manager koq masih dagang di kantor
** Teganya mengambil untung dari karyawan kecil
** Memakai fasilitas kantor untuk mengurus bisnisnya
** Digaji buat kerja, bukan untuk dagang di kantor… etc.. etc..

Telinga panas mendengar gunjingan tersebut… suatu ujian mental yang berat, karena saya harus menjaga integritas sebagai Manager, agar tidak terjadi “conflict of interest”.

Faktor “repot” lainnya, yakni apabila harus mengirim retur produk yang tidak laku terjual dan menunggu kiriman produk pengganti dari Solo yang tidak kunjung datang, padahal sudah janji kepada pembeli untuk menyerahkan pesanannya.
Gubrakkss… sungguh pedas nian kalimat complain dari para pelanggan.

Beberapa faktor “pressure” tersebut di atas telah membuat saya mengambil keputusan tegas : bisnis re-seller ditutup, agar saya dapat fokus sebagai karyawan dan menjaga integritas sebagai Manager yang telah diamanahkan oleh top management perusahaan.

Last but not least, menjalani dua profesi (karyawan dan wirausaha) secara berbarengan ternyata tidak mudah, malahan kinerja kedua profesi tidak dapat optimal.
Apapun profesinya… INTEGRITAS dan FOKUS mesti dikedepankan (ternyata “selingkuh” itu tidak nyaman.. ha.ha.ha..)

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

5 thoughts on “Proses meraih impian (2).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s