Proses meraih impian (3).

Perjalanan hidup masih panjang
Perjalanan hidup masih panjang

Tahun 1996 merambah bisnis ke 4, yakni sebagai salah satu pemegang saham pabrik pengolahan kayu di Jawa Barat.
Bisnis ini merupakan kolaborasi dengan kolega (beberapa orang manager fungsional plus Koperasi Karyawan perusahaan tempat saya berkarya), yaitu mengakuisisi kepemilikan saham perusahaan pengolahan kayu yang sedang kolaps, karena gagal bayar kredit investasi di salah satu bank di Jakarta.

Di awal investasi sudah terjadi “blunder”, karena saya terlalu mudah percaya dengan proposal yang diajukan oleh kolega sendiri, dan saya merasa “sungkan” untuk mengkaji kelayakan bisnisnya.
Kesalahan yang fundamental banget, yakni hanya percaya begitu saja dan saya tidak membuat kajian yang diperlukan apabila ingin investasi sebagai pemegang saham.

Semua itu saya lakukan karena saya “merasa” punya duit dan pada waktu itu saya punya “asumsi” sendiri, yakni : dari pada uang disimpan di Bank (dengan imbal hasil bunga yang relatif kecil), lebih baik diinvestasikan di bisnis yang akan memberikan imbal hasil yang signifikan (berdasarkan data dari proposal yang diajukan).

Dan yang membuat fatal… saya punya asumsi lainnya, bahwa apabila kelak terjadi kerugian, saya masih aman dan tetap menerima gaji dari perusahaan tempat saya berkarya.
Inilah mindset saya yang karyawan banget, mindset yang selalu merujuk pada sisi aman dan nyaman sebagai karyawan.

Well, apabila sekumpulan karyawan berbisnis bersama dan nyaris semuanya berpengalaman NOL dalam berbisnis, maka hasil bisnis yang didapatkan nyaris NOL juga.
Fakta yang terjadi, hmm… perusahaan dikelola rekan-rekan by “remote control” dari Jakarta, sementara pabrik pengolhan kayu berlokasi di Padalarang, Jawa Barat.
Dapat dipastikan management amburadul, apalagi setelah proses akuisisi selesai perusahaan langsung menangani order besar, yakni export kayu ke Hongkong.

Ups… perusahaan dengan management baru yang belum berpengalaman, langsung menangani order export yang rumit bin kompleks.
Dan tidaklah heran apabila pada akhirnya bisnis kayu langsung kolaps karena faktor2 di bawah ini :

1. Pembelian bahan baku kayu kemahalan, karena pembelian yang asal tubruk dan asal dapat barang, berhubung dikejar tenggat waktu export.

2. Proses produksi kayu mengabaikan Quality Control, akibatnya banyak produk yang di-reject oleh Buyer di Hongkong.

3. Terkena claim dari Buyer Hongkong karena pengirimannya terlambat.

4. Biaya produksi menjadi semakin tinggi, karena sebagian order diberikan kepada pabrik kayu lain, dengan tujuan agar proses export bisa “on time” (pada kenyataannya… tetap saja skejul exportnya terlambat).

Suatu “proses” pembelajaran bisnis yang bagus, yakni akibat menanggung kerugian yang besar, menyebabkan perusahaan langsung kolaps dan dana investasi yang signifikan langsung hilang… hikss..

Benang merahnya adalah, apabila masih dalam skala belajar bisnis, mestinya belajar dari skala kecil dulu, sehingga risiko bisnis yang mungkin terjadi dapat terukur, dikenali dan dapat ditanggulangi dengan mudah.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

3 thoughts on “Proses meraih impian (3).”

  1. Bener seperti yg babe bilang. Bisnis itu seperti layaknya orang sekolah. Mulai dari Playgroup ke TK. TK ke SD. SD ke SMP dan seterusnya.

    Untuk dapat naik kelas, ada sejumlah ujian lapangan yang harus dilewati, yang kadangkala bisa berwujud berbagai macam problem.

    Sukses selalu be..!! Keep entrepreneur spirit..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s