Proses meraih impian (4).

Keselarasan bisnis ibarat pakem gamelan kala mengiringi tembang
Keselarasan dalam bisnis ibarat pakem gamelan mengiringi tembang

Di tahun 1997 mencoba peruntungan dengan memulai bisnis ke 5, yakni lapak (pengepul) limbah kertas di Bekasi. Bisnis ini merupakan kerja sama dengan kolega sekantor.

Dalam 3 bulan pertama bisnis berjalan normal sesuai dengan yang direncanakan, malahan sering kekurangan modal kerja untuk menampung pasokan limbah kertas dari studio photo ternama.

Problema muncul setelah saya jarang mengontrol bisnis, karena saya sering ditugaskan perusahaan untuk mengaudit proyek-proyek di luar pulau Jawa.
Problem kali ini berkaitan dengan integritas karyawan, yakni famili rekan saya yang ditugasi untuk mengelola bisnis limbah kertas mulai bertindak tidak jujur.

Sungguh suatu ujian mental yang penuh makna, maksud hati ingin membuka lapangan kerja bagi orang yang memerlukan pekerjaan sekaligus sebagai wahana saya untuk belajar berbisnis, namun apa daya.. amanah yang kami berikan kepada karyawan tersebut justru disalahgunakan.

Rekan kerja saya merasa malu karena karyawan, yang nota bene adalah familinya, melakukan penggelapan uang hasil penjualan limbah kertas dan mengusulkan agar bisnis ditutup saja.

Selain itu, de facto kami berdua masih aktif sebagai karyawan, yang terikat dengan aturan perusahaan tempat kami berkarya, sehingga kami tidak dapat melakukan pengontrolan bisnis setiap harinya.

Akhirnya kami sepakat untuk menutup bisnis tersebut dan menjual sisa stock limbah kertas yang tak seberapa hasilnya.

Pelajaran yang diperoleh dalam bisnis limbah kertas adalah :

1. Peluang bisnis tidak harus sesuatu yang “njlimet” dan ribet, terbukti limbahpun dapat dijadikan bisnis yang putaran “cash flow”nya cukup menggiurkan.

2. Bisnis memerlukan sistem, sehingga apabila kita berhalangan hadir ada suatu mekanisme pengontrolan yang handal dan mudah mendeteksi setiap ada hal-hal yang tidak beres dalam oprasional perusahaan.

3. Dalam merekrut karyawan agar diutamakan yang memiliki integritas tinggi, berkomitmen untuk laju tumbuh perusahaan, dan dapat saling menghormati dengan stake holders perusahaan.

4. Setiap hasil penjualan harus disetor ke Bank dan tidak diijinkan untuk langsung dipakai sebagai biaya operasional.
Sedangkan untuk biaya opersional menggunakan Petty Cash dengan metode Imprest Fund (jumlah dana tetap).
Kelak dengan “banking system” akan mempercepat proses “leverage” suatu bisnis, karena perusahaan mempunyai “track record” yang bagus di bank (sebagai salah satu institusi yang menyediakan pendanaan bagi pertumbuhan suatu bisnis).

5. Bisnis sesuatu yang serius, memerlukan komitmen kuat, serta merupakan “proses” yang berkelanjutan dari pemilik perusahaan.
Apabila bisnis hanya sebagai “sampingan”, bisnis akan sulit berkembang dan hasilnya tidak dapat optimal, karena setiap saat akan selalu ada kendala / problem yang harus segera diselesaikan oleh pemilik bisnis.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

5 thoughts on “Proses meraih impian (4).”

  1. Sampun dangu mbonten pinarak mriki Pak Bams. Nyuwun ngapunten🙂
    Sukses selalu Pak. Inspiratif sekali, pengingat buat kita-kita yg masih nyubie.

    Salam hangat dari The Jak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s