Proses meraih impian (6).

A night in Singapore
A night in Singapore

Setelah belajar jatuh bangun mengelola beberapa bisnis (dan semua bisnis tersebut sudah ditutup), tiba saatnya saya harus serius, yakni merancang hal-hal sebagai berikut :

  • Langkah-langkah yang dilakukan terhadap bisnis baru yang bakal digeluti
  • Waktu definitif untuk mengajukan surat resign sebagai karyawan.

Beberapa aspek yang mengerucutkan niat berbisnis dan rencana resign sebagai karyawan, antara lain :

  • Ingin memiliki kebebasan jiwa, yang sudah sekian puluh tahun terpasung dengan seabreg peraturan kepegawaian, peraturan-peraturan yang memang lazim diterapkan dalam suatu sistem perusahaan
  • Ingin meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga, yang selama sekian tahun terabaikan karena tuntutan tugas sebagai karyawan, yakni seringnya frekuensi perjalanan dinas ke berbagai kota di Nusantara.
  • Ingin mengaktualisasikan diri pribadi dengan karya bisnis, yang berlandaskan falsafah “memberi dan melayani” kepada stake holders dan masyarakat sekitar. Saya menerapkan falsafah hidup yang diajarkan oleh ayah (almarhum), meskipun dengan sedikit modifikasi untuk menyikapi bidang karya yang berbeda (profesi ayah adalah PNS, guru SMEA Negeri).
  • Ingin lepas dari rutinitas kehidupan yang monoton, serta ingin melakoni kehidupan yang dinamis, “membumi” dan penuh passion dalam karya.

Dan pada bulan November 1999 saya memulai bisnis ke 7 di Klaten, Jawa Tengah. Inilah cikal bakal bisnis yang kelak menjadi “flag carrier”, karena saya mulai menggunakan dan mengenalkan brand BETIGA kepada masyarakat, yakni perusahaan yang menjadi wahana aktivitas profesi saya sebagai wirausaha.

Bidang usaha yang pertama kali dilakoni Betiga adalah jual beli sapi potong. Saya memulai bisnis ini dengan skala yang relatif kecil, yakni mengucuri dengan modal awal sebesar Rp 900.000,-
Perusahaan ini saya harapkan sebagai implementasi intisari dari hasil belajar jatuh bangun bisnis-bisnis sebelumnya.

Faktanya, antara harapan dan realitas berbeda, karena pada tahap awal pengelolaan bisnis… yang tampaknya semua berjalan lancar sesuai dengan action plan, namun ternyata hal itu hanya fatamorgana saja, karena.. pada fase inilah saya mulai merasakan “proses” bisnis yang sebenarnya.

Mindset dan comfort zone, yang melekat dalam diri saya, dihajar habis oleh realitas proses bisnis yang tidak kenal kompromi.
Dan di bisnis ke 7 inilah proses “detoksifikasi mindset” dimulai dengan sesungguhnya… nyaris setiap hari perasaan hati “tidak nyaman”… sering merasa cemas dan ketakutan tanpa sebab yang jelas.

Paparan peristiwa-peristiwa bisnis di artikel posting berikutnya merupakan salah satu jawaban, mengapa mengelola bisnis tidak segampang yang dibayangkan sebelumnya.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s