Proses meraih impian (7).

Setangkai bunga ungu di Kaliurang
Setangkai bunga ungu di Kaliurang

Bidang usaha Betiga yang dijalankan pertama kali adalah jual beli sapi potong. Dan sebagai modal awal adalah sebesar Rp 900.000,- yang digunakan untuk :

  • Biaya pasang 1 line nomor cantik PSTN (telpon dengan sambungan kabel dari Telkom) sebesar Rp 400.000,-
  • Uang muka (DP) pembelian 1 ekor sapi potong sebesar Rp 500.000,- , (harga yang disepakati sebesar Rp 3.500.000,-) dan harus dilunasi 7 hari setelah pembayaran uang muka.

Pada waktu itu, perusahaan belum mempunyai kandang sapi sendiri, sehingga sapi masih dititipkan di kandang milik kolega.

Seminggu kemudian, pada saat saya akan melunasi pembelian sapi, saya menerima informasi dari kolega, bahwa sapi yang akan saya lunasi tersebut malahan sudah laku terjual sebesar Rp 4.150.000,-

Wow… indahnya berbisnis… saya yang seharusnya melunasi kekurangan pembayaran sapi sebesar Rp 3.000.000,- malahan menerima transfer uang sebesar Rp 1.150.000,- dengan perhitungan Arus Kas sebagai berikut :

Harga jual penjualan sapi potong : Rp 4.150.000,-
Dikurangi : Pelunasan pembelian sapi potong : (Rp 3.000.000,-)
Jumlah dana yang ditransfer (surplus cash) : Rp 1.150.000,-

Secara kaidah Akuntansi, transaksi penjualan sapi potong tersebut sebagai berikut :

Harga jual penjualan sapi potong : Rp 4.150.000,-
Dikurangi : Harga pembelian sapi potong : (Rp 3.500.000,-)
Laba penjualan sapi potong : Rp 650.000,-

Dari ilustrasi tersebut di atas, tampak perbedaan pencatatan yang mencolok antara Arus Kas dan kaidah Akuntansi (Perhitungan Laba Rugi).

Suatu pemahaman penting yang sering diabaikan pada saat merancang Bisnis Plan, antara Arus Kas dan Perhitungan Laba Rugi.

Well… saya selalu tersenyum apabila teringat transaksi perdana ini… saya “serasa” sudah menjadi wirausaha… ha..ha..ha..
Untuk transaksi jual beli sapi potong tersebut saya hanya melakukan

1. Komunikasi via telpon (posisi saya di Jakarta, posisi kolega di Klaten), yakni tentang :

  • Informasi dari kolega adanya penawaran sapi potong yang dijual di bawah harga pasar
  • Mengambil keputusan agar sapi dibeli
  • Mengambil keputusan agar sapi dijual

2. Pergi ke ATM untuk melakukan :

  • Transfer uang Rp 500.000,- untuk pembayaran uang muka pembelian sapi dan biaya pasang telpon
  • Mengecek saldo rekening bank, yakni untuk memastikan transfer sebesar Rp 1.150.000,- sudah diterima (Hasil penjualan sapi Rp 4.150.000,- dikurangi pelunasan pembelian sapi Rp 3.000.000,-).

Kelak bahwa kemudahan berbisnis di tahap start up ini, justru yang membuat saya “terlena” dan mengalami kesulitan likuiditas yang akut.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s