Proses meraih impian (8).

Beautiful morning dew @ Kaliurang
Beautiful morning dew @ Kaliurang

Seiring berjalannya waktu, bisnis sapi potong mulai tumbuh kembang sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Kandang sapi dengan kapasitas 10 ekor sudah dibuat dan pemeliharaan sapi dilaksanakan oleh 2 orang karyawan.

Denyut bisnis yang jalan teratur mulai dirasakan, meskipun saya masih berstatus sebagai karyawan aktif.
Saya gembira dapat menikmati dunia “amphibi”, yakni sebagai karyawan yang merangkap sebagai wirausaha (meskipun bisnis masih dalam skala imut-imut… he..he..he..)

Apalagi pada waktu itu, sekitar tahun 2000, buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki sedang booming, sehingga membuat saya semakin termotivasi untuk pindah kuadran.

Dan pada titik inilah saya mulai membuat blunder lagi, karena :

  • Saya tidak sabar dan ingin segera sukses secara instant
  • Saya terbuai dengan keinginan untuk short cut (jalan pintas) dalam meraih impian, karena sudah bosan dengan beberapa kali gagal dalam berbisnis
  • Saya tidak mau mengikuti proses belajar bisnis secara kontinyu dan konsisten

Padahal saya seharusnya melakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Mengasah mindset wirausaha
  • Menjalani detoksifikasi mindset karyawan yang sudah puluhan tahun mengendap
  • Meninggalkan comfort zone karyawan dengan segera, kemudian mengajukan surat resign sebagai karyawan, sehingga dapat  menekuni profesi wirausaha secara total

Ups… meskipun masih berstatus sebagai karyawan aktif, saya malah nekad mengambil keputusan untuk mulai merambah ke bisnis sapi perah… bisnis yang padat modal dan memerlukan keahlian khusus dalam merawat hewan.

Alasan utama saya pada waktu itu adalah aktivitas penjualan sapi potong tidak dapat dilakukan setiap hari, melainkan sebulan paling banyak dua kali transaksi penjualan.

Sedangkan pada bisnis sapi perah, aktivitas penjualan harus dilakuan setiap hari, yakni hasil produksi susu sapi yang diperah setiap pagi dan sore.

Last but not least... perjalananan bisnis sapi perah ternyata melelahkan fisik dan pikiran, bisnis mengalami arus kas yang negatif karena :

  • Sebagian besar hasil susu sapi dijual (secara kolektif dengan kelompok peternak lain via KUD) kepada pabrik susu bubuk ternama, dimana  harga jual sudah dipatok dari pabrik susu tersebut.
  • De facto, harga jual susu sapi perah tidak sebanding dengan biaya operasional
  • Pembayaran dari KUD dilakukan dua minggu sekali
  • Melakukan pembelian pakan sapi (konsentrat) yang cukup signifikan setiap minggu
  • Pembayaran upah langsung tenaga kerja setiap akhir pekan.

Beruntung sebagian susu perah dapat dijual kepada pelanggan-pelanggan Rumah Tangga dengan harga jual yang lumayan.
Dan hasil penjualan susu kepada pelanggan Rumah Tangga cukup membantu arus kas untuk menopang biaya pakan sapi.

Well.. pada waktu itu saya memakai topeng, meskipun saya tahu bisnis sapi perah mengalami bleeding arus kas, namun saya pura-pura tidak merasakannya… seakan-akan bisnis berjalan mulus dan tidak mempunyai hambatan.

Saya gengsi mengakui kegagalan bisnis lagi di hadapan keluarga dan kolega…. dan saya tetap mempertahankan bisnis sapi perah tersebut, walaupun setiap minggu harus menambal arus kas yang kedodoran… !!!

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

3 thoughts on “Proses meraih impian (8).”

  1. Hehehe….
    Kalo sekarang mah gak perlu malu ya be kalo musti mengakui bahwa “Saya masih harus belajar lagi, untuk menjadi lebih maju..”

    Salam MM..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s