Alasan pindah kuadran.

They are my inspiration
They are my inspiration

Kilas balik… tahun 1998 saya sudah menetapkan rencana untuk mengajukan surat resign sebagai karyawan di tahun 2001, dan pindah kuadran (alih profesi) menjadi wirausaha.
Rencana tersebut saya tetapkan justru pada saat saya sedang berada di puncak karir sebagai Finance Manager di perusahaan jasa konstruksi di Jakarta.

Faktor-faktor yang mempengaruhi saya untuk resign, antara lain :

1. Saya menginginkan kebebasan jiwa, yakni kebebasan dalam berkarya dan ingin mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang dapat “memberi dan melayani” kepada masyarakat.
Sesuatu yang sulit diaktualisasikan apabila saya masih bersatatus sebagai karyawan, karena saya terikat dengan seabreg peraturan kepegawaian, yang memang lazim dalam suatu korporasi dan harus dipatuhi.

2. Saya ingin mengikuti jejak keteladanan yang ditinggalkan ayah (almarhum) dalam melakoni kehidupan, yang berlandaskan sprit “memberi dan melayani” kepada masyarakat.
Sepanjang hidupnya beliau konsisten mengaktualisasikan falsafah tersebut, sehingga beliau selalu menjadi panutan dalam mengelola bahtera rumah tangga, berinteraksi dengan kolega dan hidup bermasyarakat. That’s the fantastic life… !!

Pada prinsipnya saya mengadopsi falsafah beliau dan dimodifikasi sedikit, agar sesuai dengan passion pribadi dan disesuaikan dengan perkembangan jaman.

3. Meskipun produktivitas saya sebagai karyawan masih prima, namun kesadaran akan segera memasuki masa pensiun selalu membuat hati tidak nyaman, karena usia saya sudah 45 tahun (tahun 2001).
Saya ingin pensiun dengan nyaman dan damai bersama keluarga, yakni pensiun dengan kondisi bebas finansial.

4. Saya ingin meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga, yakni mempunyai banyak waktu untuk keluarga.
Saya selalu “guilty feeling” terhadap isteri dan putri-putri saya. Saya sering menomorduakan keluarga dan lebih mementingkan karir pribadi sebagai karyawan.

Adalah terlalu naif apabila saya sering mengatakan, bahwa ”saya berkarya untuk keluarga”, yang pada kenyataannya justru sering tidak hadir di saat keluarga memerlukan eksistensi saya sebagai kepala keluarga..
“Waktu” yang merupakan asset paling berharga milik saya telah saya gadaikan ke perusahaan tempat saya berkarya.

Sunguh ironis… saya lebih menghormati “mesin absen” di kantor (agar tidak dipotong uang transport dan uang makan) dari pada rengekan anak-anak yang minta diantar ke sekolahnya, yang nota bene hanya perlu waktu tempuh 5 menit dari rumah tinggal.

Oh my GodI was stupid father… Maafkan papa yang telah menyia-nyiakan waktu yang begitu berharga dengan kalian… saya telah kehilangan momen-momen manis kebersamaan dengan anak-anak… !!!

Contoh paling gamblang, saya belum pernah mengambilkan rapor anak-anak pada saat kenaikan kelas, atau hadir pada saat anak saya sedang konser musik, atau pada saat anak sedang sakit dan harus berobat ke dokter, atau membimbing anak pada saat belajar, dll.. !!

Kontribusi saya sebagai kepala keluarga pada kewajiban tersebut “nyaris NOL”. Hampir semua kewajiban diborong dan dilaksanakan penuh kasih sayang oleh isteri tercinta… tanpa didampingi saya sebagai suami.
Special for my lovely wife… you are the great mom and wonderful wife forever… I am nothing without you… !!!

Saya terjebak dalam pemahaman yang salah, bahwa kasih sayang dan perhatian kepada keluarga dapat dipenuhi dengan materi yang berlimpah, yang diperoleh dari penghasilan yang menyita sebagian besar waktu berharga saya.

Materi yang cukup memang diperlukan dalam menunjang kualitas kehidupan, namun jauh lebih bijak apabila sebagian besar waktu dapat diselaraskan penggunaannya.
Pembagian waktu yang proporsional antara keluarga dan karir, sehingga tidak kehilangan momen-momen indah bersama isteri dan anak tercinta.

Faktor tersebut di atas yang mengakselerasi keinginan pindah kuadran, agar kualitas kehidupan rumah tangga dapat lebih baik.
Semoga dapat menginspirasi semua sahabat dan pembaca blog. Salam hangat dari Jogya… !!

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

6 thoughts on “Alasan pindah kuadran.”

  1. baca tulisan anda jadi nangis,,( hiks2 cengeng ), begitu juga yang saya alami, tiap hari hanya memburu mesin absen, padahal aku ibu yang harus lebih mencurahkan perhatian ke anak2. trims untuk inspiarsinya untuk jadi renungan saya

  2. walau secara langsung belum pernah bertemu dengan anda mas bambang, apa yang anda tulis sangat menginspirasi, semoga saya dapat mengikuti anda.
    salam dahsyat dan salam super dari saya ………….

  3. Merinding membacanya be….
    Betapa berharganya waktu.. Sampai2 sang anak aja susah ketemu dengan papanya..
    Pagi disaat anak berangkat sekolah, si papa udah berangkat ngantor takut si ‘mesin absen’..
    Malam pas si papa pulang kantor, eh anak tercinta udah dalam buaian mimpi….

    Makasih udah menginspirasi dari pengalamannya..

    Salam MM..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s