Proses meraih impian (9).

Tahun pertama proses pindah kuadran (2002), saya mengambil keputusan penting dengan ceroboh dan tidak cermat.
Saya menggampangkan risiko yang kelak akan dipikul akibat keputusan tersebut.

Sebagai ilustrasi, keputusan merambah bisnis baru di bidang sapi perah merupakan studi kasus kecerobohan saya dalam mengambil keputusan.
Saya nekad terjun ke dalam bisnis sapi perah meskipun sudah tahu selalu mengalami arus kas negatif setiap bulannya.

Pada waktu itu saya mempunyai asumsi, bahwa apabila saya memberi tambahan modal kerja dan menambah investasi pembelian sejumlah sapi perah, maka produksi susu akan bertambah banyak dan Sales akan mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga arus kas akan menjadi positif.
Well… antara harapan dan fakta di lapangan jauh berbeda. Proyeksi arus kas yang diberi asumsi canggih, ternyata babak belur di lapangan.

Hambatan utama yang dialami adalah :

  • Faktor SDM (karyawan) yang tingkat keluar masuknya tinggi, padahal tidak mudah merekrut SDM yang mempunyai ketrampilan khusus untuk memelihara dan memerah susu sapi.
    Sebagaimana diketahui, sapi merupakan mahluk hidup yang harus diberi makan dan diperah susunya setiap hari.
    Sehingga setiap kali ada karyawan yang tidak masuk, dapat dipastikan aktivitas perusahaan terganggu, karena produksi susu sapi anjlok… yang tentu saja akan menurunkan Sales.
  • Faktor pakan sapi.
    Jumlah sapi perah yang bertambah menimbulkan problema pengadaan pakan ternak, karena kuantitas pembelian pakan harus lebih banyak dan pada waktu itu belum mengetahui supplier pakan ternak yang dapat diandalkan deliverynya. Akibatnya hampir setiap hari pontang panting hunting pakan ternak.
  • Faktor likuiditas finansial.
    Problema paling parah adalah dari sisi arus kas, yakni :
    1. Dana untuk investasi penambahan sapi perah cukup signifikan, sehingga sebagian cadangan dana operasional sehari-hari ikut tersedot untuk pembelian sapi.
    2. Aliran penerimaan kas dari hasil penjualan susu sapi sering molor melebihi target 15 hari, bahkan pernah pembayaran dari penjualan susu diterima setelah berumur 30 hari.
    3. Volume pembelian pakan ternak yang bertambah banyak menyebabkan gangguan yang serius dalam likuiditas finansial.

Ujian proses perubahan mindset makin komplit, karena kelak setelah berjalan beberapa tahun, saya menemukan kecurangan yang dilakukan oleh kolega sendiri, orang yang paling saya percaya sekaligus mitra bisnis handal di dalam mengelola jaringan bisnis Betiga Klaten.

Yang membuat mental semakin terpuruk, saya menemukan kecurangan tersebut justru pada saat saya sudah resign dari karyawan dan memulai profesi baru sebagai wirausaha.

Jujur saja, saya mengalami kepanikan dan gamang menghadapi kehidupan, karena saya sudah tidak lagi mempunyai penghasilan gaji sebagai karyawan.
Sementara di sisi lain 4 orang anak sudah semakin tumbuh kembang, dan memerlukan dana pendidikan lebih banyak lagi sesuai dengan kenaikan strata pendidikannya.

Hambatan lain yang cukup serius, saya kurang menyiapkan mindset wirausaha kepada isteri dan anak-anak, sehingga di antara kami seringkali terjadi “beda” persepsi dan konsep.
Terlebih konsep perubahan gaya hidup, dari comfort zone menjadi hidup secukupnya. Perubahan gaya hidup diperlukan, agar proses pindah kuadran dapat berjalan tanpa hambatan yang signifikan.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Proses meraih impian (9).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s