Proses meraih impian (11).

Pada titik perusahaan di strata Star Outlet (SO, Sub Distributor) dan bisnis sedang mengalami laju tumbuh yang tinggi, kerabat yang diserahi mengelola bisnis mulai berubah karakternya.
Perputaran uang yang begitu cepat dan dalam jumlah cukup signifikan setiap harinya, ternyata mampu menggoyahkan iman kerabat dan melakukan penyimpangan keuangan.

Saya terlambat menyadari adanya penyimpangan yang terjadi di dalam pengelolaan keuangan di perusahaan, karena meskipun sudah resign saya masih dikontrak sebagai konsultan di Jakarta, serta hanya melakukan kontrol perusahaan di Klaten seminggu sekali.

Data keuangan yang disajikan di pembukuan tidak dapat dipertanggungjawabkan dan setelah dilakukan audit ternyata struktur keuangan perusahaan rapuh dan likuiditas negatif, tercermin dari :

  • Saldo Kas bukan merupakan uang tunai, namun hanya berupa Kas Bon keperluan pribadi kerabat.
  • Sementara pos Piutang usaha yang disajikan di Neraca dalam kondisi macet dan sebagian lagi fiktif.
  • Di sisi lain, pos Utang usaha kepada Principal cukup signifikan, sudah jatuh tempo dan gagal bayar (dana modal kerja terbenam sebagai Piutang usaha)

Saran-saran untuk menyehatkan keuangan nyaris tidak digubris. Dan yang membuat kesabaran habis adalah saat isteri, yang saya tugasi untuk mengelola keuangan perusahaan, malah eksistensinya ditolak oleh kerabat, yakni dengan cara memprovokasi dan mengintimidasi karyawan.
Beruntung masih ada beberapa karyawan yang masih loyal kepada saya, sehingga komitmen kepada pelanggan masih dapat dipenuhi.

Ini merupakan keteledoran saya karena telah memberikan kepercayaan mutlak kepada kerabat, sehingga saya sebagai owner malah tidak mempunyai kendali terhadap perusahaan sendiri.
Akhirnya perusahaan distribusi Aqua Danone dan LPG Pertamina dengan bendera AB saya tutup pada tanggal 1 Juni 2003.

Pada tanggal 2 Juni 2003 saya kibarkan bendera Betiga Klaten yang bergerak di bidang jasa distribusi Aqua Danone dan LPG Pertamina.
Pengibaran bendera baru bisnis dalam suasana yang memprihatinkan, bukan lagi dari titik nol tetapi dari titik negatif, karena saya sebagai personal masih harus bertanggung jawab dan membayar Utang usaha perusahaan AB kepada Principal.

Peraturan Principal menambah “nelangsa”, berhubung saya memakai bendera baru, Betiga Klaten, maka strata keagenan Aqua Danone harus down grade, dari SO / Sub Distributor diturunkan menjadi strata Whole Seller (WS).

Selama lima bulan harus survive untuk menaikkan strata keagenan dan alhamdulillah strata keagenan SO dapat diraih kembali, bahkan juga dipercaya Principal untuk mendistribusikan produk karton dengan strata SO… blessing in disguise.. !!

Well… proses bisnis yang harus saya jalani kali ini benar-benar tidak nyaman di hati dan menyakitkan. Namun pada titik inilah saya baru menemukan satu pemelajaran yang luar biasa, dan telah mengajari saya untuk selalu bangkit dari beragam keterpurukan ataupun kegagalan.

Ada satu kalimat bijak tentang proses melakoni kehidupan yang selalu menginspirasi :
“ … Harus belajar berjalan sebelum bisa berlari… “

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

7 thoughts on “Proses meraih impian (11).”

  1. Sebelum bisa berjalan, tetep harus bisa merangkak ya be?
    Jadi semuanya ada fase-fase pertumbuhannya sendiri2, alias tidak ada yg instan mak jegagik bisa lari. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s