Jejak langkah anak guru (1).

Gonzu Family tahun 1964
Bams tahun 1965 (berdiri paling kanan)

Aku dilahirkan pada tanggal 23 Desember 1956 di Klaten, salah kota Kabupaten di Jawa Tengah. Kedua orang tuaku berprofesi sebagai guru PNS, ayah seorang guru yang mengajar di SMEA Negeri dan ibu seorang guru yang mengajar di SD Negeri.

Aku terlahir sebagai anak ketiga dari enam bersaudara. Komposisi anak di keluargaku cukup unik dan mudah diingat, karena urutan anak nomor gasal selalu laki-laki, sedangkan anak nomor genap selalu perempuan.
Di budaya Jawa, urutan anak demikian disebut “gilir kacang”.

Orang tua (ortu) dalam mendidik anak dikemas dalam sikap disiplin a’la militer, maklum sebelum memilih profesi guru, ayah sempat sebagai anggota TNI dan merupakan salah satu anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Dalam mendidik anak, ortu selalu mengajarkan dan memberi contoh perilaku kehidupan, yang kelak akan membentuk karakter : jujur, mandiri, disiplin, peduli kepada sesama, siap melayani dan berbagi tanpa pamrih.

Aku masih dapat mengingat dengan jelas, sejak kelas 2 SD ‘dipaksa’ harus pergi/pulang sekolah dengan naik sepeda sendiri, tidak ada antar jemput boo…!!!

Pulang sekolah harus tidur siang, bila tidak tidur siang… hmm.. siap-siap ‘dihukum’ dengan sabetan gagang kemoceng, atau paling ringan dihukum ‘berdiri’ di bawah jam selama sekian jam (malunya itu lho.. dilihat dan diejek anak tetangga.. hehehe..)

Namanya juga anak-anak… selalu kucing-kucingan saat bermain di siang hari, agar ketika ayah datang dari mengajar, ‘pura-pura’ sedang tidur siang di kamar.

Apesnya, pada saat ayah pulang ke rumah di luar skejul rutin, padahal aku sedang bermain di rumah tetangga, duh… pastinya paha pada bilur-bilur kena sabetan gagang kemoceng… hahaha…

Aku mempunyai tugas rutin setiap sore untuk menyirami tanaman di taman dan mengisi bak mandi dari sumur. Mengisi bak mandi dengan cara menimba dari sumur, karena pada waktu itu belum ada mesin pompa air.
Hmm.. pekerjaan yang cukup melelahkan untuk ukuran anak kecil usia 7-10 tahun.

Last but not least, aku bersyukur telah dididik ortu sedemikian ‘keras’nya, karena :

  • Dapat melakoni hidup dengan kemandirian yang kuat, siap menghadapi problem yang datang silih berganti.
  • Dalam berbisnis selalu menjaga komitmen dan amanah yang diberikan para stake holders.
  • Semakin memahami, bahwa suatu impian harus diraih dengan proses panjang berkesinambungan dan ‘bangkit lagi‘ dari kegagalan, untuk melanjutkan proses meraih impian.
  • Menginspirasi dalam mendidik anak-anakku, tentunya metode pendidikan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

3 thoughts on “Jejak langkah anak guru (1).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s