Jejak langkah anak guru (2).

Masa kecil Gonzu Fams
Bams tahun 1964 (paling kanan, sedang merangkul adik)

Dari sekian banyak pendidikan dan keteladanan ortu yang selalu membekas di hati adalah cara mengaktualisasikan : hidup sederhana, totalitas tanggung jawab dan menjunjung tinggi komitmen.

Periode tahun 1960-1975 kondisi ekonomi ortu sebagai guru PNS cenderung ‘minus’, karena harus menghidupi enam orang anak dan semuanya duduk di bangku sekolah, dari jenjang SD sampai jenjang Universitas (rentang usia antar anak rata-rata dua tahun).

Aku sempat merasakan makan nasi ‘bulgur’, juga ‘tiwul’ (makanan dari gaplek/ketela) sebagai menu makan harian selama beberapa tahun.
Lauk telur dadar plus kecap merupakan menu mewah, itupun masih dengan catatan : telur dadar dibagi 8 bagian (ayah plus ibu plus 6 orang anak), sedangkan kecapnya ditambah air agar cukup untuk 8 orang.
Jadi tidak heran apabila badan anak-anak kurus karena kurang gizi (aku selalu terharu setiap kali ingat kenangan ini… hiks..).

Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga tersebut, ayah juga mengajar di beberapa sekolah swasta dan menjadi Pengurus Koperasi Pegawai Negeri serta Pengurus Koperasi Veteran.
Pada titik ini, aku (yang notabene masih anak kecil) belajar dari keteladanan ayah dalam mengaktualisasikan arti ‘totalitas tanggung jawab’ terhadap keluarga.

Aku sering menyaksikan betapa ortu jungkir balik mencari pinjaman uang setiap kali ada keperluan mendadak yang di luar pengeluaran rutin setiap bulan, terlebih biaya masuk sekolah anak ke jenjang yang lebih tinggi.
Peristiwa ini mengajariku arti ‘komitmen’ yang harus dihadapi dan diselesaikan, meskipun harus dijalani dengan babak belur dihajar realitas kehidupan.

Jenjang pendidikan di SD Kanisius dan di SMP Pangudi Luhur di Klaten aku lewati dengan mulus, bahkan masuk kategori berprestasi.
Namun memasuki jenjang SMA (terlebih ketika naik ke kelas 2) aku mulai berulah dan bermasalah, akibat salah gaul dengan lingkungan/teman, sehingga aku keluar dari pakem yag digariskan oleh ortu selama beberapa tahun.

Bangku SMA selama 3 tahun aku jalani di dua sekolah, kelas 1 dan kelas 2 di SMA St. Yosef Solo, sedangkan kelas 3 di SMA Negeri Pare, Kediri (Jawa Timur). Prestasi studi di SMA termasuk kategori minimalis alias pas-pasan untuk lulus.

Di sisi lain, aku diberi pelajaran hidup selama studi di SMA, yakni mengabaikan kesempatan untuk berprestasi dengan bagus. Kelak aku selalu mengoptimalkan setiap ada kesempatan/peluang yang datang, meskipun harus dijalani dengan perjuangan yang penuh tantangan.

Hidup jauh dari ortu inilah (sekolah SMA di Pare, Kediri) yang kelak akan menginspirasi dan membawa perubahan drastis jejak langkah kakiku dalam melakoni kehidupan, sebagaimana diceriterakan dalam serial artikel berikutnya.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s