Jejak langkah anak guru (4).

Rentang waktu tahun 1975-1976 merupakan tahun instropeksi dan mengambil keputusan-keputusan penting, yang kelak mewujudkan impian pribadi dan membentuk karakter yang diperlukan bagi seorang wirausaha.

Setelah lulus SMA aku mengisi waktu dengan mengikuti Kursus Bahasa Inggris di Yogyakarta selama beberapa bulan. Sepulang dari Kursus , aku sering nongkrong di Boulevard Kampus UGM (dekat bundaran UGM), merenungi diri sebagai ‘pecundang’, karena ‘pupus’ sudah impian menjadi mahasiswa UGM… hikss..

Namun sisi hati yang lain mulai mencanangkan impian, bahwa suatu saat nanti aku akan datang lagi ke Yogyakarta, yakni : aku ingin menikmati ‘pensiun’ di kota Yogyakarta yang Istimewa ini.

Perjuangan hidup dimulai pada tahun 1976, ketika aku mulai berkarya di Koperasi Veteran Klaten sebagai Staf Administrasi, dan kemudian dimutasi sebagai Colletor di Unit Simpan Pinjam Koperasi tersebut.

Aku selalu resah dan menggugat jati diri dengan kehidupan sehari-hari yang monoton, jiwa mudaku berontak, menginginkan kehidupan yang dinamis dan penuh warna. Aku ingin merantau ke Jakarta.

Setelah melalui negosiasi dan rengekan kepada ortu di awal tahun 1977, akhirnya aku diijinkan untuk mengarungi kehidupan di Jakarta.

Ketika negosiasi dengan ortu, aku mengajukan poin penting yang melandasi keingian merantau ke Jakarta, yakni :
Aku ingin belajar hidup “mandiri”, yakni mencari pekerjaan dan meniti karir untuk kehidupan yang lebih baik.
Tujuan lainnya adalah ingin mencerdaskan diri dengan kuliah di Perguruan Tinggi atas biaya sendiri.

Mengingat kondisi ekonomi ortu, aku memohon kepada ortu untuk membiayai keperluan hidup di Jakarta plus biaya masuk pendidikan di Perguruan Tinggi di tahun pertama saja. Tahun berikutnya aku bertekad untuk survive.

Meskipun bukan Universitas yang kuimpikan, akhirnya tahun 1977 aku merasakan bangku kuliah, yakni kuliah di Akademi Akuntansi Jayabaya, Jakarta. Aku memilih kelas malam agar tidak repot apabila sudah mendapatkan pekerjaan.

Selama belum mendapatkan pekerjaan, setiap pagi aku ikut kursus Tata Buku/Akuntansi di YAI selama 6 bulan pertama di tahun 1977, lalu mengikuti Ujian Negara untuk mendapatkan Sertifikat Akuntansi tingkat Dasar dan tingkat Terampil.

Setelah mempunyai Sertifikat Akuntansi, tiba saatnya melamar pekerjaan, dan alhamdulillah tahun 1978 diterima sebagai Yunior Asisten Auditor di Kantor Akuntan Publik “Machdjud Modopuro & Co”

Serial artikel berikutnya merupakan sharing jejak langkah kehidupan di Jakarta selama puluhan tahun.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Jejak langkah anak guru (4).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s