Jejak langkah anak guru (5).

Dari tahun 1978 sampai dengan Februari 1984 merupakan masa penggemblengan di Kantor Akuntan Publik, aku menyebutnya “Kawah Candradimuka”… yang menjadi pilar ilmu kehidupan riil plus skolastik.

Agenda harian yang harus dijalani, antara lain :

Jam 07.00 pagi berangkat dari rumah kost di daerah Petak Sembilan (Glodok, Kota), jalan kaki menuju ke Halte Bus di Jl Pinangsia, terus naik bus kota jurusan Terminal Lapangan Banteng ; lalu ganti bus kota jurusan Pulo Gadung, turun di Halte Bus Galur, Tanah Tinggi (sebelah Timur Proyek Senen), lanjut jalan kaki lagi menuju Kantor Akuntan Publik di Jl Tembaga.

Jam 16.00 sore keluar dari Kantor Akuntan Publik, jalan kaki menuju halte bus, terus naik bus kota jurusan Rawamangun, turun di Halte Bus Pulomas, dilanjut dengan acara kuliah di kampus Akademi Akuntansi.

Kuliah selesai jam 21.00, dan untuk skejul pulang ke kost, biasanya nebeng (bonceng motor) teman sampai di Lapangan Banteng (psst.. untuk mengirit biaya transport.. hehehe..) ; dilanjut naik bus kota jurusan Kota, turun di Halte Bus Pancoran Glodok, lanjut jalan kaki menuju rumah kost di Petak Sembilan, Glodok.

Sampai di kost sekitar jam 22.30, terus beres-beres pekerjaan rumah (cuci/setrika pakaian, dll), dilanjut dengan belajar plus mengerjakan tugas-tugas dari kampus. So… paling cepat jam 01.30 baru bisa istirahat merebahkan badan.

Well, status karyawan dengan jam terbang minimalis berbanding lurus dengan tingkat penghasilan bulanan yang diperoleh, sehingga harus survive di kehidupan kota Metropolitan Jakarta yang serba “keras”.

Pada usia yang masih belia, aku sudah “dipaksa” belajar mengendalikan cash flow, karena dengan penghasilan yang minimalis mesti mengatur banyak pengeluaran, yang kalau dijumlahkan jauh di atas penghasilan.

Pengeluaran pokok yang mesti dikeluarkan, antara lain : Biaya kost bulanan, makan siang di Kantor, makan malam di Kampus, transport naik bus kota 5 kali sehari, foto copy text book materi kuliah di Kampus, serta… menyisihkan sebagian penghasilan untuk membayar SPP Kuliah (hmm.. pos inilah yang paling menguras energi).

Artikel berikutnya merupakan strategi “exit” dari situasi kesulitan cash flow yang melilit kehidupan.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s