Jejak langkah anak guru (6).

Situasi “kepepet” kesulitan cash flow saat melakoni kehidupan di kota Jakarta, justru menimbulkan situasi hidup yang fenomenal, yakni memacu andrenalin untuk selalu fight, tegar dan tabah setiap menghadapi cobaan, serta menjadi kreatif dalam menyelesaikan problem.

Seringkali kreativitas tersebut keluar dari pakem norma kehidupan yang wajar, antara lain :

  • Pada saat “tanggal tua”, ketika aku naik bus kota, sering bilang kepada kondektur bus kota : “Numpang bang… lagi kehabisan ongkos nih.. duit dipakai untuk bayar SPP”, dan tentu saja aku sering menerima “hadiah“ sumpah serapah dari bang Kondektur… hehehe…
  • Untuk menghemat ongkos transport, setiap bulan membeli Karcis Langganan Bus Kota dengan tarif Pelajar (50% dari tarif umum), sayangnya dibatasi hanya untuk 50 lembar per bulan (padahal sebulan aku memerlukan minimal 125 lembar).
  • Pada saat pulang kuliah di malam hari, berulang kali aku nebeng / bonceng motor teman kuliah sampai di Lapangan Banteng, dilanjut jalan kaki sampai ke tempat Kost di daerah Glodok… lumayan jauh namun bikin badan sehat… hahaha…
  • Urusan makan di tanggal tua menjadi rumit dan cenderung nekad mengorbankan kesehatan, karena dalam sehari aku hanya makan sekali, yakni pada saat jam istirahat malam di Kampus.

Well.. fenomena tanggal tua membawa berkah yang luar biasa, karena :

  • Pada saat jam istirahat siang di Kantor, aku masih berkutat dengan pekerjaan kantor atau belajar dari buku-buku Akuntansi, Auditing dan Financial Management yang dimiliki perpustakaan pribadi Boss. Sekaligus sebagai bagian dari program pengetatan Cashflow (dilarang” makan siang.. hahaha..)
  • Melihat ketekunan dan konsistensi tersebut, suatu hari Boss mengajak ngobrol perihal kehidupan pribadiku di ruang perpustakaan beliau. Dan alhamdulillah… Boss yang akan membayari SPP Kuliah di Akademi Akuntansi sampai selesai.. what’s an amazing day guys..
  • Pada saat jam istirahat malam di Kampus, aku sering membantu teman-teman kuliah dalam menyelesaikan tugas mata kuliah pokok tentang Akuntansi dan Auditing. Dan sebagai ungkapan terima kasih, teman-teman sering mentraktir makan malam dan memberikan tumpangan sampai Lapangan Banteng… hahaha…

Benang merah proses kehidupan dalam periode ini adalah :

  • Selalu memberikan asset terbaik yang dimiliki, yakni integritas dan loyalitas kepada siapapun.
  • Selalu konsisten dalam berbagi dan melayani kepada sesama, meskipun kondisi hidup sedang susah.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s