Jejak langkah anak guru (10).

Waktu terasa berjalan lambat selama berkarya di Riyadh, karena passion sedang menurun dan kurang fokus pada karir, yang ada hanya rasa kangen ingin pulang ke Indonesia.

Aku baru mendapat cuti setelah bekerja selama 6 bulan di Saudi Arabia, dan kembali ke Indonesia pada bulan Agustus 1984.

Ketika cuti yang diberikan perusahaan sudah habis dan harus kembali ke Riyadh lagi, aku justru mengajukan surat Pengunduran diri (resign) sebagai karyawan.

Alasan formal di surat resign adalah : ingin membantu kerepotan ortu di Klaten ; namun alasan sebenarnya adalah : aku ingin menikahi gadis Klaten, yang membuatku selalu ingin pulang ke Indonesia selama di Saudi Arabia.

Keluarga (terlebih ortu) dan teman-teman menyesalkan keputusan resign tersebut, karena mereka beranggapan karirku di Luar Negeri tersebut ciamik dan bergengsi (memang keren sih.. usia masih 28 tahun.. menduduki level Manager.. fasilitas prima.. plus salary signifikan… hehehe…).

Sejujurnya, keputusan nekad tersebut hanya berdasarkan suara hati, yang membisikan agar segera menikah dengan gadis Klaten tersebut. Kekuatan suara hati yang dahsyat, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata, namun bisa dirasakan, sehingga aku berani mengambil keputusan nekad.

Kelak keputusan nekad dan penuh risiko tersebut membawa anugerah, baik ketika masih sebagai Karyawan maupun ketika sudah terjun sebagai Wirausaha.

Sebulan setelah resign (Oktober 1984), aku sudah bekerja lagi di Group Perusahaan Leasing sebagai Internal Auditor. Lokasi tugas di Jakarta, Bogor dan Sukabumi.

Tepat di hari ulang tahunku yang ke 28 (tangal 23 Desember 1984), aku bertunangan dengan gadis Klaten, yang membuatku berani dan nekad dalam mengambil keputusan resign, meninggalkan karir impian yang sudah mapan dan aman ; kemudian memulai lagi karir yang asal kerja, amburadul, dan tidak jelas arahnya… c’est la vie… !!

Bulan Maret – April 1985, tunanganku sakit dan harus dirawat inap di Rumah Sakit Surakarta selama 40 hari. Aku selalu mendampingi tunanganku selama dirawat di Rumah Sakit.. dari pagi sampai malam, dan otomatis aku mengambil keputusan nekad lagi, yakni resign sebagai Internal Auditor di Perusahaan Leasing (rekor… dalam 6 bulan resign dua kali…)

Benang merah proses kehidupan yang sudah dijalani adalah :

  • Dengarkan suara hati dan yakin dalam mengambil keputusan penting, terlebih yang berkaitan dengan masa depan.
  • Raih dan optimalkan setiap ada peluang dan kesempatan, meskipun hasilnya sering berbeda dengan yang diharapkan ; itulah proses dalam kehidupan riil.
  • Proses realitas kehidupan yang sering tidak nyaman di hati, jalani dan nikmati saja, karena kelak akan menjadi terbiasa dengan kondisi tersebut.. !!
  • Bangkit lagi setalah terpuruk dan konteks masa depan selalu diutamakan.

Proses meraih karir sebagai Karyawan, kehidupan Rumah Tangga dan proses Pindah Kuadran (alih profesi dari Karyawan menjadi Wirausaha) akan mewarnai serial berikutnya.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s