Mengenali risiko bisnis

Ketika bisnis anda pada fase “start up”, problem utama adalah bagaimana Memasarkan/Menjual Produk atau Jasa agar menjadi Penjualan/Omzet.
Omzet akan menghasilkan Cashflow yang lancar plus Margin yang cukup, sehingga Perusahaan yang dikelola bisa survive dan berkembang.

Peningkatan Omzet, otomatis akan menimbulkan problem kedua, yaitu Produksi (pengadaan bahan baku/pembantu, kapasitas mesin, gudang, dll), atau Operasional (pasokan barang, management stok, distribusi produk, supplier, dll).

Problem kedua menimbulkan derivat problem ketiga, yakni problem Finansial untuk mencukupi peningkatan Biaya Produksi atau Biaya Operasional, bahkan untuk pembiayaan Investasi, misal : membeli Mesin, Peralatan Produksi, Gudang, Kendaraan Bermotor, dll.

Derivat problem berikutnya adalah problem paling pelik, yaitu SDM. Problem menjadi pelik karena yang kita hadapi adalah mahluk hidup, sama seperti kita, yang pastinya mempunyai banyak keinginan dan impian… hehehe…

Pada tahap “start up”, anda “mungkin” masih bisa mengerjakan sendiri 4 fungsi tersebut di atas (Pemasaran, Produksi/Operasional, Finansial dan SDM), namun seiring meningkatnya Omzet, anda akan sering “pusing”, karena pada saat yang bersamaan, anda harus :

  • Selalu tersenyum ketika menjelaskan spesifikasi Produk/Jasa kepada Customer, agar Customer memesan dan membeli Produk /Jasa yang anda tawarkan.
  • Mengecek ketersediaan Stok , atau segera pesan ke Supplier bila Stok Kosong, atau membeli Bahan Baku untuk Produksi, atau mengerjakan Produk yang dipesan Customer, dan sekian banyak aktivitas Produksi/Operasional lainnya.
  • Menyiapkan segala keperluan Finansial dari aktivitas Pemasaran (mengecek transfer dari Customer) sampai aktivitas Produksi/Operasional (belanja Bahan Baku, membayar Supplier, dll).
  • Menjadi “karyawan” untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut di atas.

Sampai pada titik tertentu, anda masih dapat melayani Customer dengan baik, tanpa harus merekrut Karyawan, yang nota bene identik dengan Gaji, alias mengurangi Margin/Laba.

Well… apabila anda ingin mengembangkan bisnis yang dikelola, sebaiknya mulai mengenali risiko bisnis, antara lain mulai merekrut Karyawan, agar anda tidak tersandera dengan tugas-tugas rutin, yang sebenarnya bisa didelegasikan kepada Karyawan.

Eksistensi Karyawan memang membawa dampak bertambahnya Biaya, namun di sisi lain, sebagian tugas anda digantikan oleh Karyawan, dan anda dapat menggunakan waktu yang digantikan tersebut untuk aktivitas lain yang lebih penting, misalnya menggenjot Omzet (identik dengan naiknya Margin).

Naiknya Margin pasti cukup untuk menutupi Biaya Gaji ; Bahkan karena sisa Margin masih banyak, mungkin anda akan segera merekut Karyawan baru lagi, sehingga anda bisa menikmati “enaknya jadi Pengusaha”…. Isn’t that interesting ??

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

2 thoughts on “Mengenali risiko bisnis”

  1. Kalau sudah punya karywan yg dibutuhkan, omset mesti digenjot ya Mas Bams, biar tersedia cukup marjin untuk keperluan gaji karyawan tersebut. Kalau begitu sebetulnya beban tak lebih berkurang ya Mas, cuman lebih gaya saja karena punya karyawan tambahan hehehe..Tapi yah, kabar baiknya, perusahaan kita sudah bisa disebut berkembang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s