Antara bisnis dan budaya perusahaan

Cannakale Port, TurkeyBudaya perusahaan (corporate culture) atau sering disebut kultur bisnis merupakan salah satu pilar utama untuk membangun kelestarian bisnis.

Mengukur suatu bisnis tidak semata pada “ukuran” atau tingkat keuntungannya saja, tetapi juga perlu diperhatikan seberapa besar manfaat perusahaan tersebut yang diberikan kepada publik atau masyarakat.

Banyak perusahaan Nasional yang mengalami laju tumbuh yang signifikan dalam dekade terakhir. Hal tersebut sangat mungkin terjadi sebagai buah dari proses bisnis yang panjang, serta mengedepankan aspek kultur bisnis dan etika.
Kultur bisnis yang dilandasi dengan kebijakan memandang tinggi karyawan, tanggung jawab, etika dan integritas.

Esensinya adalah manusia sebagai pemegang peran sentral roda bisnis, bukan hanya dilihat dari segi kompetensinya saja, melainkan juga pada nilai-nilai positif manusia atau karyawan tersebut.

Manusia pemegang peran terbesar dalam proses bisnis, pembuat, pelaku strategi, serta pembangun sistem suatu perusahaan. Manusia pula sebagai perumus strategi, pemilik infrastruktur dan manajemen pengetahuan.

Seorang pemilik bisnis yang ingin sukses harus “menyentuh” aspek manusia ini dengan cerdas dan arif. Namun dibalik aspek-aspek tersbut, manusia harus punya nilai luhur, sebab ia menjadi “pusat” dari apa pun.

Seorang manusia tidak sekadar mesti punya kompetensi, tetapi juga memiliki spiritual yang baik. Aspek spiritual tersebut yang menjadi landasan perusahaan. Dan aspek spiritual ini pula yang kemudian diisi dengan kompetensi sehingga menjadi dinamis.

Kombinasi spiritual dan kompetensi akan melahirkan kreativitas dan inovasi yang spektakuler, sebab karyawan bekerja dengan kenyamanan, ketenteraman dan kebahagiaan. Pada ujung nya perusahaan maju pesat dan mempunyai kinerja bagus.

Perlu dipahami, bahwa mengelola karyawan bukan hanya sekadar memberikan imbal jasa (gaji) yang cukup, serta mematuhi aturan Pemerintah tentang besaran Upah Minimum Propinsi (UMP).

Faktor penting mengelola karyawan justru terletak pada pendekatan yang dilandasi “empati” dan “hati” dari pemilik bisnis. Yang pada intinya adalah “memanusiakan” karyawan sebagai “manusia”, bukan sekadar “mesin” perusahaan.

Selamat membangun budaya perusahaan.

Author: Bams Triwoko

Entrepreneur. Grandpa. Jogjakarta, Indonesia. Blogging. Amateur Photography. Travel enthusiast.

7 thoughts on “Antara bisnis dan budaya perusahaan”

  1. Memanusiakan manusia ya Mas. Karena pegawai juga pemangku kepentingan yang menentukan kinerja organisasi, bukan semata sumber daya yang dimanfaatkan. Makanya budaya ini sebenarnya penting banget ya Mas, bagaimana membuat pegawai bahagia dengan pekerjaan, dengan organisasi, dan punya rasa memiliki supaya tujuan semua pemangku kepentingan tercapai. Kan tujuannya organisasi yang sehat :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s