Kenali prospek dan risiko bisnis anda

Hot Air BallonSejatinya menggapai sukses dalam berbisnis itu gampang gampang susah. Layaknya maju ke medan perang, menerjuni dunia bisnis juga memerlukan nyali besar. Strategi dan taktik matang sangat penting agar tidak mudah kalah dalam menghadapi persaingan bisnis.

Salah satu cara untuk membangun nyali berbisnis adalah dengan belajar dari kegagalan. Sukses berbisnis merupakan jalan keluar dari kegagalan.

Anda jangan takut memulai usaha. Yang perlu diwaspadai adalah poin risiko menanggung kerugian, dengan begitu anda akan berhati-hati dalam mengelola usaha bisnis.

Gagal dalam berbisnis adalah hal biasa dan lumrah. Anda bisa menentukan kapan sebuah rintisan usaha layak dilanjutkan, atau harus segera dihentikan agar rugi tidak semakin besar. Yang penting anda tidak mudah menyerah.

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata Pengusaha yang sukses sudah mengalami kegagalan sebanyak empat sampai lima kali. Untuk itu, menjalankan bisnis harus sungguh-sungguh, sepenuh waktu serta tidak begitu saja mempercayakan kepada orang lain.

Risiko bukanlah hambatan dalam merintis bisnis, karena risiko bisnis dapat diperhitungkan dan diminimalisir. Risiko dapat dikurangi dengan cara memahami jenis usaha yang digeluti, serta membangun karakter “berani menanggung risiko”.

Aspek dan batasan yang perlu diperhatikan untuk menanggung kerugian, antara lain menentukan batas bawah seberapa lama anda mampu mempertahankan usaha tersebut, misalkan 4 (empat) sampai 12 (dua belas) bulan, tergantung dari jenis usaha yang dipilih.

Asumsinya, setelah melampui batas bawah yang sudah ditetapkan, maka diharapkan usaha yang dirintis tersebut sudah menghasilkan keuntungan.

Apabila batas bawah sudah dilampui dan setelah dievaluasi usaha tersebut memang tidak layak untuk diteruskan, jangan segan untuk menutup usaha tersebut.

Patokan untuk mengetahui bahwa bisnis yang dikelola berprospek bagus dapat dilihat dari tingkat pengembalian investasi yang sudah dikeluarkan (return on investment) selama setahun.

Jika tingkat pengembalian investasi minimal 10% dari aset selama setahun pertama, berarti bisnis tersebut bagus dan mempunyai prospek yang cerah.

Anda jangan berkecil hati apabila keuntungan bisnis masih lebih rendah atau sama dengan suku bunga deposito bank pada masa awal merintis bisnis.

Meskipun di awal usaha nominal keuntungan relatif kecil, sejatinya keuntungan menjadi seorang Pengusaha pasti jauh lebih besar, yakni keuntungan berupa pengalaman mengelola usaha.

Pengalaman itulah yang tidak bisa digantikan dengan besarnya bunga deposito bank. Dengan mengelola investasi secara langsung, yakni sebagai Pengusaha, kita jadi mengetahui seluk beluk berbisnis. Setidaknya kita memiliki pengalaman bisnis yang tidak diajarkan di bangku sekolah formal.

Antara bisnis dan budaya perusahaan

Cannakale Port, TurkeyBudaya perusahaan (corporate culture) atau sering disebut kultur bisnis merupakan salah satu pilar utama untuk membangun kelestarian bisnis.

Mengukur suatu bisnis tidak semata pada “ukuran” atau tingkat keuntungannya saja, tetapi juga perlu diperhatikan seberapa besar manfaat perusahaan tersebut yang diberikan kepada publik atau masyarakat.

Banyak perusahaan Nasional yang mengalami laju tumbuh yang signifikan dalam dekade terakhir. Hal tersebut sangat mungkin terjadi sebagai buah dari proses bisnis yang panjang, serta mengedepankan aspek kultur bisnis dan etika.
Kultur bisnis yang dilandasi dengan kebijakan memandang tinggi karyawan, tanggung jawab, etika dan integritas.

Esensinya adalah manusia sebagai pemegang peran sentral roda bisnis, bukan hanya dilihat dari segi kompetensinya saja, melainkan juga pada nilai-nilai positif manusia atau karyawan tersebut.

Manusia pemegang peran terbesar dalam proses bisnis, pembuat, pelaku strategi, serta pembangun sistem suatu perusahaan. Manusia pula sebagai perumus strategi, pemilik infrastruktur dan manajemen pengetahuan.

Seorang pemilik bisnis yang ingin sukses harus “menyentuh” aspek manusia ini dengan cerdas dan arif. Namun dibalik aspek-aspek tersbut, manusia harus punya nilai luhur, sebab ia menjadi “pusat” dari apa pun.

Seorang manusia tidak sekadar mesti punya kompetensi, tetapi juga memiliki spiritual yang baik. Aspek spiritual tersebut yang menjadi landasan perusahaan. Dan aspek spiritual ini pula yang kemudian diisi dengan kompetensi sehingga menjadi dinamis.

Kombinasi spiritual dan kompetensi akan melahirkan kreativitas dan inovasi yang spektakuler, sebab karyawan bekerja dengan kenyamanan, ketenteraman dan kebahagiaan. Pada ujung nya perusahaan maju pesat dan mempunyai kinerja bagus.

Perlu dipahami, bahwa mengelola karyawan bukan hanya sekadar memberikan imbal jasa (gaji) yang cukup, serta mematuhi aturan Pemerintah tentang besaran Upah Minimum Propinsi (UMP).

Faktor penting mengelola karyawan justru terletak pada pendekatan yang dilandasi “empati” dan “hati” dari pemilik bisnis. Yang pada intinya adalah “memanusiakan” karyawan sebagai “manusia”, bukan sekadar “mesin” perusahaan.

Selamat membangun budaya perusahaan.