Membangun impian.

Adalah hak setiap orang untuk meraih impian pribadi, biasanya dalam ukuran kualitatif, yakni sejahtera dan bahagia.
Tidak ada ukuran baku (tolok ukur, standar) untuk sejahtera dan bahagia, karena setiap orang relatif berbeda standarnya.

Bagi saya pribadi, impian identik dengan motivasi untuk selalu bergerak dinamis dalam melakoni kehidupan, menjadi pilar (sebagai pegangan) di saat terpuruk dan menjadi tonggak monumental di saat berhasil meraihnya.

Impian memang memerlukan pengorbanan dan rasa tidak nyaman. Impian dibangun bertahap, melalui “proses” panjang , dan terkadang harus berani merubah impian, agar selaras dengan perkembangan jaman dan lebih bermanfaat bagi segenap stake holders bisnis kita.

Meskipun impian itu gratis, banyak orang yang bingung ketika ditanya “Apa impian anda dan bagaimana meraihnya ??”.

Kebingungan merupakan indikator tidak yakin dengan kompetensi pribadi dan ragu-ragu dalam meraih impian, sehingga gampang menyerah saat menjalani proses bisnis (persaingan dengan kompetitor, hambatan operasional, kesulitan likuiditas, mengelola SDM, dll).

Namun di sisi lain, ada juga yang terperangkap dengan sikap over confidence dalam mengelola bisnis, ingin sukses secara instant, sehingga melupakan pakem dasar seorang wirausaha dan rambu-rambu bisnis yang sehat ; Pastinya berdampak pada proses makin panjang dalam meraih impian.

Sedulur kinasih, betapa indah dan nikmatnya, ketika menetapkan dan menjalani proses impian berlandaskan keseimbangan antara sisi spiritual dan pakem bisnis sehat yang lazim digunakan.

Selamat “melayani dengan hati” kepada semua stake holders (pemangku kepentingan) bisnis kita.
Insya Allah semua impian dapat kita gapai. Amin.