Sharing Februari 2013

Jogjakarta railway station

Menyapa hangat dari Jogjakarta di Februari 2013 kepada semua sahabat. Saya ingin sharing tentang perjalanan pindah kuadran, dari karyawan menjadi wirausahawan. Semoga menginspirasi para sahabat yang ingin pindah kuadran.

Salah satu faktor penting dalam proses melakoni kehidupan adalah : “waktu”, sesuatu yang tidak tergantikan. Apa yang terjadi saat ini merupakan hasil dari keputusan yang diambil waktu lalu. Hasilnya ada yang sesuai dengan yang diharapkan, ada juga yang meleset dari harapan, karena kurang tepat waktu dan tidak cermat ketika mengambil keputusan.

Saya sudah berusia 45 tahun ketika mengambil keputusan resign sebagai karyawan di tahun 2001, usia yang “cukup tua” untuk memulai profesi baru sebagai wirausaha. Perlu digaris bawahi, bahwa profesi wirausaha memerlukan kerja keras dan cerdas.

Saya terlambat minimal 5 tahun dalam mengambil keputusan penting tersebut, jujur saja karena saya takut mengambil risiko, yaitu takut menjadi tidak aman dan nyaman. Pada waktu itu, saya kemas ketakutan tersebut dengan dalih ingin mengumpulkan modal dahulu, sebagai bekal agar aman dan nyaman dalam mengelola bisnis.
Ketakutan saya sesungguhnya adalah, takut hidup susah lagi setelah sekian lama hidup dalam kemapanan sebagai karyawan (Finance Manager di sebuah perusahaan konstruksi papan atas).

Adalah ketakutan yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu dikedepankan, seandainya saya mampu untuk “melihat” sisi lain dari risiko, yakni sisi kemungkinan menjadi sukses dan berkelimpahan sebagai wirausahawan. Sebagaimana pakem kehidupan yang berlaku, selalu ada dua sisi yang bertentangan, dua sisi berbeda yang kendalinya justru berada di pikiran kita sendiri.

Jumping

Ketika merancang masa depan dan harus mengambil suatu keputusan penting, sering didominasi perasaan takut gagal dan jarang yang mengoptimalkan emosi dan energi positif. Memang, dampak pengambilan keputusan sering kali membuat frustasi, terpuruk dan hati tidak nyaman. Namun ketika terpuruk kemudian berhasil bangkit lagi dengan semangat baru, bersiaplah untuk menyambut impian yang mulai menjadi kenyataan.

Kabar baiknya, justru dengan berani mengambil keputusan, meskipun terlambat, itulah yang akan membuat cerdas dalam melakoni “proses” kehidupan di segala bidang. Faktor “kepepet” dan tanggung jawab kepada semua pemangku kepentingan bisnis akan memunculkan karakter ulet, tangguh, kreatif dan inovatif.

Ketika sudah resign sebagai karyawan, pendidikan nyata saya dimulai. Pendidikan riil di universitas kehidupan, langsung praktek bisnis dan mengelola risiko bisnis. Saya menyadari, bahwa pendidikan dan prestasi akademis saya kurang memadai , sehingga saya harus proaktif mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan, menambah “jam terbang” dan bersedia menjalani proses bisnis dengan konsisten.

Saya segera melahap buku-buku mengenai bisnis (marketing, management, keuangan, SDM dan leadership). Saya harus belajar banyak dan dengan cepat, karena banyak aspek bisnis yang tidak saya pahami. Kemudian menerapkan apa yang sudah dipelajari ke dalam bisnis. Kabar baiknya, pengalaman kerja ketika menjadi karyawan seringkali menginspirasi saat berproses menciptakan budaya perusahaan, sistem management, pengelolaan SDM dan sebagainya.

The family

Saya bukanlah anak keturunan dari pengusaha, profesi kedua orang tua adalah guru PNS, sehingga saya hanya mengandalkan proses belajar di universitas kehidupan riil dan menerapkannya ke dalam bisnis secara terus menerus. Proses belajar merupakan salah satu kebiasaan terpenting saya dalam mengelola bisnis, maka saya akan dan selalu belajar di sekolah wirausaha dengan konsisten, di sepanjang sisa hidup saya.

Di saat jenuh ataupun ketika mulai merasakan kenyamanan sebagai wirausahawan, saya hanya rehat sejenak untuk masuk pit stop (baca: piknik), kemudian masuk lintasan jalur cepat lagi, mulai proses belajar lagi dengan menerapkan strategi baru untuk mengembangkan bisnis yang didapat selama pit stop.

Benang merah menjadi wirausahawan, ternyata tidak ada hari kelulusan ataupun wisuda di sekolah wirausaha.

Summary in English:

Borobudur Temple

Warm greeting from Jogjakarta to my friends. This time I want to share the experience of ‘traveling’ to move the profession, from employee to entrepreneur. Hopefully inspire the friends who want to move the profession.

One important factor in the process of life is “time”, something that is not replaceable. What is happening now is the result of past decisions. There are the results as expected. There are also missed expectations, due to lack of accurate and timely manner when making decisions.

I was 45 years old when making decisions resign as an employee in 2001, the age of the “too old” to start a new profession as an entrepreneur. The profession requires hard work and entrepreneurial savvy.

I was late, at least 5 years, in making these important decisions, because I was afraid to take risks, which is the fear of being unsafe and uncomfortable. At that time, I reasoned like to raise capital first, to be safe and comfortable in managing the business. Though my real fear is, fear of hard life again after living in reliability comfort zone as an employee (Finance Manager of a leading construction company).

It is the fear of excessive and unnecessary forward, if I was able to “see” the other side of the risk, such as the possibility to be successful and prosper as an entrepreneur. In real life there are always two sides to the contrary, the control of both sides is in our own minds.

When designing the future and have to take an important decision, it is often dominated by fear of failure and not to optimize rare emotion and positive energy. Indeed, the impact of decision-making is often frustrating, and heart slumped uncomfortable. But when it sank and then managed to bounce back with renewed vigor, ready to welcome the dream started to become reality.
The decision set, though late, it will be making a comeback in undergoing the “process” of life in all areas. Factors “pressure trapped” and responsibility for all business stakeholders will bring tenacious character, tough, creative and innovative.

Jogjakarta City

As already resigned, my real education began. Real education in the university of life, direct business practices and manage business risk. I realize that I was inadequate academic performance, so I have to catch up with science proactive and willing to undergo a consistent business processes.

I immediately read books of business, i.e. marketing, management, finance, human resources and leadership. I have learned a lot and quickly, because many aspects of the business that is not known. Then apply it into the business.
The good news, when an employee work experience often inspires proceed when creating a corporate culture, management systems, human resource management and so on.

I am not a descendant of entrepreneurs, professionals both parents are teachers, so I just rely on the process of learning and apply it to the business continuously. The learning process is one of the most important habits in managing my business. I will and always learned in school entrepreneur with a consistent, throughout the rest of my life.

Indeed, there is no graduation or graduation day at the school of entrepreneurship.