Tidak ada jalan pintas

BTS Tower

Di era informasi ini akses Internet begitu mudah, sehingga kita mengalami banjir informasi. Pengetahuan apapun dapat diperoleh dengan mudah dan murah.

Tiba-tiba kita ‘merasa’ jadi ‘lebih pintar dan tahu segala hal’ dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.
Banyak ilmu pengetahuan yang tadinya tidak populer, tiba-tiba menjadi populer dan digemari masyarakat.

Hal ini terjadi karena di-blow up dengan frekuensi informasi yang bertubi-tubi melalui Media Sosial (Facebook, Twitter, Pinterest), Blog, Televisi, Youtube, Ebook, Buku Populer (cetak), dan lain-lain.

Jaman sekarang ‘orang biasa’ bisa menjadi sangat populer dan fenomenal berkat menguasai ‘informasi’ tertentu layaknya seorang pakar atau profesional.

Hal ini bisa terjadi karena ‘orang biasa’ tersebut ‘berani’ menginvestasikan waktu untuk mempelajari dan memilah banjir informasi dari Internet.
Kemudian membuat analisis dan meringkasnya menjadi suatu ‘konten’ yang ‘bisa dijual’ kepada masyarakat yang memerlukannya.

Kita sudah berada di era setiap harinya bermunculan ‘ahli-ahli’ baru. Sesuatu yang tidak bisa dihindari ataupun ditolak eksistensinya. Dalam sekejap, ‘orang biasa’ bisa memproklamasikan diri menjadi ‘orang yang ahli’.

Dalam era Internet ini, bias ilmu individu ‘tidak diuji’ lagi oleh penggunanya. Semua itu bisa ‘dikemas’ dalam ‘personal branding’ yang canggih, melalui semua media informasi yang tersedia di Internet, yang begitu mudah, murah dan efektif.

Pertanyaannya adalah “Benarkah kita tidak perlu lagi ‘mengembangkan’ keahlian yang mendalam ?“

Well, sesungguhnya untuk menjadi ‘ahli’ diperlukan kerja keras dan cerdas, praktek secara intensif dan berkelanjutan, disiplin dan konsisten, serta dilandasi karakter dan passion yang kuat. Keahlian didapat dari serangkaian ‘proses’ yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan, yang tidak bisa dipelajari dalam semalam. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi ahli.