I love you so much… !!

Delapan tahun silam, ketika baru beberapa bulan pasca resign sebagai karyawan, saya nyaris setiap hari merasa mual, cemas, takut dan pusing tanpa sebab yang jelas.

Sering kali saya membatin, apakah ini karena kebiasaan menerima amplop gaji bulanan yang telah berlangsung sekian puluh tahun, dan… gubrakkk… tiba tiba tidak lagi menerima amplop gaji.

Dan memang, psikologis ketakutan dan kecemasan sebagai kepala rumah tangga, yang tidak mampu menafkahi keluarga, telah meluluh lantakkan mental, yang selama ini selalu tegar menghadapi apapun bentuk “anugerah” kehidupan.

Di sisi lain, bisnis yang sudah berjalan (sudah eksis ketika masih berprofesi karyawan) dan diharapkan dapat mengganti amplop gaji, hwarakadah… malah penuh masalah dan kemudian… ditutup untuk “cut loss”.. hiks.. !!

Dampaknya… jiwa terasa kosong dan kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang selalu membuat aman, nyaman dan mapan dalam melakoni kehidupan.

Goncangan tersebut sempat membuat tidak pede beberapa saat, dan sering “minder” setiap kali bertemu dengan teman-teman ataupun famili, karena tidak ada lagi yang dapat dibanggakan sebagai aktualisasi manusia.

Baca entri selengkapnya »

Hambatan ketika memulai bisnis.

Menjawab pertanyaan mayoritas sahabat yang ingin memulai bisnis distribusi Aqua Danone dan LPG Pertamina, berikut sharing pengalaman pribadi ketika memulai bisnis distribusi, khususnya hambatan-hambatan yang dialami.

Sharing ini ditujukan kepada sahabat yang berlatar belakang atau berprofesi sebagai karyawan dan ingin pindah kuadran menjadi wirausaha.

Memulai bisnis distribusi dapat dikatakan susah susah gampang, kuncinya terletak pada keberanian diri sendiri untuk memulai bisnis tersebut.
Persiapan dan perhitungan kelayakan bisnis relatif penting dan perlu diwujudkan dalam bentuk ringkasan yang mudah dipahami dan tidak “njlimet”.

Setelah dibuat ringkasan rencana bisnis sederhana, segera bulatkan niat dan tekad untuk “action” (bertindak) memulai bisnis.
Apabila tidak segera action, atau merasa takut dan ragu-ragu, atau terlalu “njlimet” dalam berhitung untung rugi, hmm… profesi wirausaha hanya akan berupa wacana dan impian saja.

Baca entri selengkapnya »

Antara impian dan pilihan.

Syukur kepada Allah yang selalu membimbingku dalam menjalani kehidupan, terlebih di saat menentukan pilihan sebagai wirausaha, setelah sekian puluh tahun menjalani profesi sebagai karyawan.

Ternyata pilihan hidup sebagai wirausaha memang tidak mudah dan harus belajar sepanjang hidup… hehehehe…
Hal ini terbukti ketika melakukan refleksi perjalanan hidup di penghujung tahun 2009, masih ada beberapa impian pribadi yang harus diaktualisasikan.

Dan memang, selama proses menuju impian, selalu ada revisi dan improvisasi. Hal ini disebabkan beberapa faktor :

1. Bertambahnya usia mengakibatkan turunnya produktivitas. Namun di sisi lain, emosi relatif lebih stabil dan terkontrol.
2. Dinamika kehidupan, yakni adanya perubahan life style masyarakat, sehingga perlu melakukan revisi strategi bisnis yang telah ditetapkan.
3. Perubahan teknologi informasi yang semakin canggih, telah merubah urutan prioritas alokasi dana investasi.
4. Kegagalan investasi bisnis baru, yang tentu saja menguras likuiditas. Hmm.. sebuah “proses” menuju wirausaha sejati yang sempat mengharu biru emosi.

Baca entri selengkapnya »

Refleksi bisnis tahun 2009.

Pergerakan bisnis di tahun 2009 banyak berubah dan tiba saatnya untuk membuat evaluasi, sebagai refleksi kiprah pribadi selama setahun terakhir ini.

Secara umum refleksi bisnis dapat diikhtisarkan sebagai berikut :

a. Beberapa bulan di awal tahun 2009 kinerja perusahaan induk mengalami kontraksi, akibat krisis global yang menurunkan daya beli masyarakat, sehingga penjualan sempat anjlok sampai 30%.

b. Ujian bisnis semakin komplit, yakni adanya kesalahan strategi investasi di beberapa bidang bisnis baru, yang dirintis bersama beberapa mitra bisnis, dan pada akhirnya kolaborasi tersebut dibekukan aktivitasnya.
Menyikapi peristiwa ini, saya lebih nyaman dengan istilah : salah satu “proses” pribadi menuju wirausaha sejati.

Baca entri selengkapnya »