Delapan tahun silam, ketika baru beberapa bulan pasca resign sebagai karyawan, saya nyaris setiap hari merasa mual, cemas, takut dan pusing tanpa sebab yang jelas.
Sering kali saya membatin, apakah ini karena kebiasaan menerima amplop gaji bulanan yang telah berlangsung sekian puluh tahun, dan… gubrakkk… tiba tiba tidak lagi menerima amplop gaji.
Dan memang, psikologis ketakutan dan kecemasan sebagai kepala rumah tangga, yang tidak mampu menafkahi keluarga, telah meluluh lantakkan mental, yang selama ini selalu tegar menghadapi apapun bentuk “anugerah” kehidupan.
Di sisi lain, bisnis yang sudah berjalan (sudah eksis ketika masih berprofesi karyawan) dan diharapkan dapat mengganti amplop gaji, hwarakadah… malah penuh masalah dan kemudian… ditutup untuk “cut loss”.. hiks.. !!
Dampaknya… jiwa terasa kosong dan kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang selalu membuat aman, nyaman dan mapan dalam melakoni kehidupan.
Goncangan tersebut sempat membuat tidak pede beberapa saat, dan sering “minder” setiap kali bertemu dengan teman-teman ataupun famili, karena tidak ada lagi yang dapat dibanggakan sebagai aktualisasi manusia.
![family4[1]](http://betigaklaten.files.wordpress.com/2010/02/family41.gif?w=150&h=126)


